Review Film Antara Mama, Cinta, dan Surga: Drama Iman dan Tradisi dalam Balutan Budaya Batak

Review Film Antara Mama, Cinta, dan Surga: Drama Iman dan Tradisi dalam Balutan Budaya Batak

Film Antara Mama, Cinta, dan Surga garapan Agustinus Sitorus hadir sebagai drama keluarga yang mengangkat dilema klasik: memilih antara panggilan hati atau memenuhi harapan orang tua. Dengan latar budaya Batak yang kental, film ini mencoba meramu isu iman, cinta, dan tradisi dalam satu kisah emosional yang sarat makna.

Namun, di balik premis yang kuat, muncul pertanyaan: apakah film ini benar-benar mampu menggugah perasaan penonton, atau justru terjebak dalam cerita yang terlalu kompleks?

Premis Kuat: Pergulatan Iman dan Restu Keluarga

Cerita berfokus pada Bernard (Aldy Maldini), anak bungsu keluarga Batak yang sejak awal diarahkan menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Dalam kultur Batak, profesi tersebut identik dengan stabilitas dan kehormatan keluarga.

Namun setelah lulus kuliah, Bernard justru merasa terpanggil menjadi pendeta. Ia terinspirasi oleh tokoh misionaris legendaris Ludwig Ingwer Nommensen yang berperan besar dalam sejarah Kekristenan di Tanah Batak.

Konflik pun memuncak ketika sang ibu (Dharty Manullang) bersikeras mempertahankan harapan keluarga. Di sisi lain, Bernard juga harus memikirkan masa depan hubungannya dengan Anindita (Anneth Delliecia), kekasih yang ikut terdampak oleh pilihan hidupnya.

Secara konsep, pertentangan antara iman, cinta, dan keluarga ini memiliki daya dramatis yang besar. Sayangnya, kekuatan tersebut tidak sepenuhnya tergarap maksimal.


Editor: Lulu

Komentar

Terkini