ULASAN Marty Supreme: Dekonstruksi Mitos “From Zero to Hero” dalam Arena Pingpong Takdir
HBO Max
Sepanjang 150 menit, Marty Supreme berkali-kali seperti hendak melangkahkan kaki di rute “from zero to hero” yang familiar, hanya untuk memutar balik dan menjatuhkan protagonisnya kembali ke titik nol. Sebab tak ada “hero” dalam karya penyutradaraan terbaru Josh Safdie ini. Yang ada hanyalah individu yang terombang-ambing oleh permainan takdir, bak bola yang bolak-balik dipantulkan di atas meja pingpong.
Kredit pembukanya nyeleneh: sekelompok sperma berlomba mencapai ovum, lalu setelah pembuahan terjadi, sel telur itu berubah menjadi bola pingpong. Begitulah hidup Marty Mauser, diperankan oleh Timothée Chalamet, yang karakternya terinspirasi dari sosok Marty Reisman. Dengan kecepatan bola pingpong kompetitif yang bisa mencapai 100–140 km/jam, film ini seakan mengajak penonton membayangkan hidup yang terus melaju sekencang itu tanpa jeda.
Marty adalah atlet tenis meja profesional sekaligus wakil Amerika Serikat dalam kejuaraan dunia 1952 di London. Ia datang dengan ambisi besar—dan keyakinan penuh—untuk menang. Namun di partai final, ia berhadapan dengan wakil Jepang, Koto Endo (Koto Kawaguchi), yang menggunakan raket berlapis karet peredam suara. Marty takluk. Ia terjerembap dari puncak dunia menuju dasar jurang kegagalan.
Eksekusi adegan pertandingan tenis meja terasa mengagumkan dan autentik. Koto Kawaguchi yang memang berlatar atlet memberi tanding yang meyakinkan, sementara latihan intens Chalamet membuahkan hasil nyata. Meski beberapa adegan memanfaatkan efek komputer—bola ditambahkan secara digital pada tahap pascaproduksi—gerak tubuh dan gestur para aktor tetap menjadi kunci utama. Tanpa performa fisik yang presisi, teknologi secanggih apa pun akan terasa hampa.
Selepas kekalahan itu, Marty berusaha membangun ulang kejayaannya. Ia membutuhkan uang—untuk melunasi utang, membayar biaya pendaftaran turnamen, dan membereskan persoalan pribadi, termasuk perselingkuhannya dengan Rachel (Odessa A'zion), teman masa kecilnya yang telah bersuami.
Sebagaimana karya-karya Safdie sebelumnya, konflik dipaparkan dalam intensitas tinggi. Penyuntingan berkecepatan kilat, close-up ekstrem, serta dialog yang meluncur seperti rentetan peluru membangun atmosfer cemas yang konstan. Dari problem sederhana—mencari dana untuk bertanding—alur berkembang liar. Marty terlibat urusan dengan polisi, mafia, hingga Kay Stone (Gwyneth Paltrow), aktris senior yang tengah berusaha bangkit di panggung teater. Keliaran narasi terus meningkat, sampai ketika seorang karakter “mengaku” sebagai vampir yang hidup sejak 1616, film ini nyaris membuat absurditas terasa mungkin.
“Memang bukan takdirnya” tampaknya menjadi kalimat paling tepat menggambarkan perjalanan Marty. Menyaksikan upaya demi upaya yang selalu kandas—sering kali secara absurd—pada awalnya terasa menghibur. Namun dalam durasi dua setengah jam, repetisi kegagalan itu sempat memunculkan kejenuhan. Ketidakterdugaan skenarionya perlahan menjadi mudah ditebak.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, DEPOK- Drama thriller romantis mendatang Siren’s Kiss kembali…
NYALANUSANATARA, SEOUL- Yoo Yeon Seok siap menunjukkan sisi akting…
NYALANUSANTARA, Semarang - Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang…
NYALANUSANTARA, DEMAK- iQOO secara resmi meluncurkan iQOO 15R di…
NYALANUSANTARA, Semarang – Dalam rangka mengisi bulan suci…
Sepanjang 150 menit, Marty Supreme berkali-kali seperti hendak…
NYALANUSANTARA, Semarang - Kanwil Kemenkum Jateng melalui Tim…
NYALANUSANTARA, SURABAYA-Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi…
NYALANUSANTARA, SURABAYA- Bencana yang melanda wilayah Sumatra, khususnya Pidie…
NYALANUSANTARA, DEMAK- Kepala Desa Sidomulyo, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak,…
Rohit Shetty dikabarkan tengah mempersiapkan film komedi terbarunya,…
Komentar