REVIEW Palestine 36, Film Sejarah Palestina yang Menggugah Tayang di Bioskop Indonesia
ISTIMEWA
Dunia perfilman internasional kembali menghadirkan karya sinematik yang kuat dan sarat makna melalui film Palestine 36, garapan sutradara Palestina Annemarie Jacir. Film ini bukan sekadar tontonan drama sejarah, tetapi juga menjadi pengingat atas perjalanan panjang konflik di Palestina. Karya tersebut bahkan dipilih mewakili Palestina dalam kategori Best International Feature Film di ajang Academy Awards 2026 dan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 6 Maret 2026.
Kisah Perlawanan di Era Mandat Britania
Cerita film berlatar tahun 1936, ketika terjadi pemberontakan besar masyarakat Arab terhadap kekuasaan kolonial Inggris di Palestina. Tokoh utama, Yusuf, adalah pemuda desa yang bekerja sebagai sopir bagi keluarga elit di Yerusalem. Ia melayani Khuloud, seorang jurnalis progresif, dan suaminya Amir yang berasal dari kalangan bangsawan.
Ketegangan meningkat ketika pemukim Zionis dari Eropa mulai mengambil alih lahan pertanian warga dengan dukungan militer Inggris. Konflik semakin kompleks dengan hadirnya Khalid, pemimpin kelompok gerilya yang berjuang melawan pendudukan, serta Rabab yang merawatnya di tengah situasi yang semakin mencekam. Melalui sudut pandang seorang gadis kecil bernama Afra, penonton diajak melihat bagaimana tanah air mereka perlahan berubah akibat kebijakan kolonial.
Visual Autentik dan Paduan Arsip Sejarah
Salah satu kekuatan utama film ini adalah pendekatan visual yang autentik. Jacir memilih melakukan proses syuting langsung di berbagai lokasi bersejarah di Palestina. Lanskap alam yang indah digambarkan kontras dengan menara pengawas dan pagar kawat berduri yang mulai muncul seiring meningkatnya konflik.
Film ini juga memadukan adegan fiksi dengan rekaman arsip asli dari tahun 1930-an yang telah direstorasi dan diberi warna. Perpaduan tersebut menghadirkan nuansa emosional yang kuat, seolah menegaskan bahwa kisah yang ditampilkan memiliki akar nyata dalam sejarah.
Perspektif Sejarah yang Lebih Kompleks
Berbeda dengan beberapa film sejarah klasik seperti Exodus (1960) yang cenderung menghadirkan sudut pandang tunggal, Palestine 36 mencoba menampilkan gambaran sosial yang lebih kompleks. Film ini menunjukkan perbedaan kondisi antara petani desa yang kehilangan tanah dengan kalangan elit kota yang masih bergulat dengan kepentingan politik dan bisnis.
Penggambaran pihak Inggris juga tidak sepenuhnya hitam-putih. Ada tokoh militer yang digambarkan keras, tetapi ada pula karakter yang mulai mempertanyakan moralitas kekuasaan kolonial.
Editor: Lulu
Terkait
Siapa yang tidak antusias saat mendengar Han So-hee…
Dunia perfilman internasional kembali menghadirkan karya sinematik yang…
Terkini
NYALANUSANTARA, Jakarta– Pemerintah resmi mengumumkan jadwal lengkap penyelenggaraan…
NYALANUSANTARA, Karanganyar– Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meresmikan…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Mercedes-Benz resmi memperkenalkan versi facelift dari Mercedes-Benz…
PLN Indonesia Power UBP Semarang Perluas PLTS Apung dan Rooftop, Guna Perkuat Transisi Energi Bersih
NYALANUSANTARA, Semarang– PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis…
NYALANUSANTARA, DEMAK- Apple disebut mengalami kendala dalam pengembangan ponsel…
NYALANUSANTARA, Semarang– Banjir yang melanda Solo Raya sejak…
NYALANUSANTARA, Jakarta– Pemerintah terus mempercepat realisasi program 3…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Oppo bersiap meluncurkan smartphone terbarunya, Oppo F33…
NYALANUSANTARA, Semarang – Sebanyak 63 Aparatur Sipil Negara…
NYALANUSANTARA, Sragen– Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Xiaomi secara diam-diam menghadirkan dua smartphone terbarunya,…
Komentar