Mahasiswa KKN UGM Kembangkan Alat Pemanen Air Hujan di Magelang
NYALANUSANTARA, Magelang- Sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pemberdayaan Kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (KKN-PPM UGM) mengembangkan alat pemanen air hujan yang diadaptasi dari teknologi Gama Rain Filter untuk diterapkan di Desa Ngadiharjo, Magelang, Jawa Tengah.
Dengan memanfaatkan material sederhana dan biaya sekitar Rp400 ribu, alat tersebut dapat membantu meningkatkan akses masyarakat terhadap air bersih untuk berbagai keperluan rumah tangga. Hal itu dikatakan oleh salah satu anggota tim KKN-PPM tersebut Aushaf Mishbahuddin Muwaffaq.
“Pemanen air hujan kami kembangkan untuk kebutuhan rumah tangga skala kecil, sehingga dibuat versi prototipenya dengan harga yang terjangkau. Kami sudah melakukan sosialisasi dan menerapkan teknologinya ke masyarakat, saat ini teknologinya sudah terpasang di salah satu rumah warga,” kata Aushaf Mishbahuddin Muwaffaq.
Pemanen air hujan adalah sebuah teknologi pengumpulan dan penyimpanan air hujan yang jatuh dari langit-langit atau atap untuk dimanfaatkan dalam kebutuhan irigasi tanaman, penyediaan air bersih, dan mengurangi ketergantungan pada pasokan air PAM atau sumur bor. Inovasi pembeda dari teknologi yang dikembangkan oleh KKN UGM terletak pada desainnya yang sederhana, murah, dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, serta teknologi yang tidak memerlukan keahlian khusus untuk perakitan dan pengoperasiannya.
Komponen pemanen air hujan di antaranya meliputi tangki atau wadah penampungan air yang bisa berupa drum bekas, tong, atau bak beton. Saluran pembuangan air hujan dibuat menggunakan pipa PVC atau saluran lainnya untuk mengalirkan air hujan dari atap ke tangki penampungan.
Untuk komponen lain yang diperlukan seperti filter atau saringan, yang bermanfaat untuk menghilangkan kotoran dan partikel lain dari air hujan sebelum masuk ke dalam tangki penampungan. Di samping ketiga komponen utama tersebut, terdapat juga material tambahan berupa klem pipa, segel karet, dan bahan perekat untuk memastikan semua sambungan rapat dan tidak bocor.
Adanya teknologi pemanen air hujan sederhana itu, membuat masyarakat setempat memberikan dukungan positif. Untuk memperluas dampaknya, mahasiswa KKN berencana menyelenggarakan pelatihan terhadap komunitas dan mengajak lebih banyak warga untuk mengadopsi teknologi ini. “Inovasi penampung air hujan ini sangat membantu saya dan keluarga untuk menghemat penggunaan air PDAM. Saya menggunakan air yang terkumpul dari alat tersebut untuk mencuci piring, mencuci kendaraan, dan menyiram tanaman-tanaman saya,” ucap Tuti, salah satu warga desa.
Editor: Redaksi
Terkait
NYALANUSANTARA, Surabaya - Dr. Arif Nur Muhammad Ansori…
NYALANUSANTARA, Surabaya - Universitas Airlangga (UNAIR) telah mengumumkan…
Terkini
NYALAUSANTARA, SURABAYA- Center for Environmental, Social, and Governance Studies…
NYALANUSANTARA, SURABAYA- Airlangga Education Expo (AEE) 2026 kembali menghadirkan…
NYALANUSANTARA, BANDUNG- Pria memegang peran penting dalam upaya pencegahan…
Talwiinder dan Disha Patani Resmi Umumkan Hubungan, Keluar Bergandengan Tangan di Lollapalooza India
NYALANUSANTARA, MUMBAI- Pernikahan Nupur Sanon dengan musisi Stebin Ben…
NYALANUSANTARA, Agam- Rumah-rumah berdinding papan warna krem, dengan…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Film Patriot yang dibintangi aktor legendaris Mammootty…
NYALANUSANTARA, Tapanuli- Sekolah-sekolah terdampak bencana di Tapanuli Tengah…
Hantu dalam horor Indonesia kian sering kehilangan daya…
NYALANUSANTARA, Pemalang– Pemerintah provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng)…
Kabar menggembirakan datang bagi penggemar film horor dan…
NYALANUSANTARA, Salatiga– Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka…
Komentar