Shalsa Dellia Ridoewan, Mahasiswa FIB UNAIR, Memulai Perjalanan Magang di Hokkaido Jepang

Shalsa Dellia Ridoewan, Mahasiswa FIB UNAIR, Memulai Perjalanan Magang di Hokkaido Jepang

Shalsa Dellia Ridoewan, Mahasiswa Stujep, FIB, UNAIR berkesempatan magang di Hotel Yumoto Shirogane Onsen, Jepang. Foto: istimewa

NYALANUSANTARA, Surabaya - Shalsa Dellia Ridoewan, seorang mahasiswa dari Program Studi Kejepangan (Stujep) di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), telah memulai perjalanan magangnya di Jepang, tanah kelahiran bunga sakura. 

Shalsa, yang kini tengah mengikuti program magang di Hotel Yumoto Shirogane Onsen di Hokkaido, telah memulai perjalanan ini sejak Oktober 2023 dan dijadwalkan akan berakhir pada Oktober mendatang.

Magang ini merupakan bagian dari kerja sama antara PT. Japan Indonesia Program Akademik (JIPA) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Jepang dan memberikan pengalaman kerja langsung di Jepang bagi mahasiswa Indonesia. 

Selain itu, para peserta magang juga akan diajak untuk memahami lebih dalam budaya kerja dan kehidupan sosial di Jepang.

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh Shalsa adalah adaptasi dengan budaya dan bahasa Jepang sehari-hari. Dalam wawancara pada tanggal 19 Februari 2024, Shalsa mengungkapkan bahwa dia belajar tentang etika menyajikan hidangan Jepang dan tugas-tugas lainnya di hotel. 

“Pada awal pelaksanaan internship, mentor akan memberikan pembekalan terkait teknis jobdesk yang akan dilakukan selama beberapa bulan ke depan. Kemudian penjelasan lebih lengkapnya nanti akan dieksekusi saat kerja. Jadi selama bekerja kita sambil memperhatikan dan lama-lama akan terbiasa dengan sendirinya,” tutur Shalsa.

Meskipun awalnya Shalsa mengalami sedikit kesulitan dalam beradaptasi, dia telah mengatasi itu dengan rajin berkomunikasi dengan orang-orang setempat dan terus memperdalam pengetahuannya tentang bahasa Jepang.

Terkait dengan makanan, Shalsa juga menghadapi tantangan karena sulitnya menemukan makanan yang halal. Untuk mengatasi hal ini, dia memilih untuk memasak sendiri dan menyimpan stok sayuran beku.

“Untuk mengatasi hal itu, biasanya saya mencoba untuk sering melakukan conversation dengan mereka dan terus mempelajari ulang bahasa Jepang. Dalam hal makanan, saya biasanya susah membedakan karena tidak ada logo atau pengenal bahwa makanan itu halal,
jadi biasanya saya memilih memasak sendiri dan membeli frozen vegetables untuk stok,” ujar mahasiswa FIB UNAIR itu.

Shalsa juga memberikan pesan inspiratif kepada rekan-rekannya, bahwa mencoba hal baru adalah kunci untuk mengembangkan diri. Baginya, mengikuti program magang ini adalah langkah penting untuk mendukung karir masa depannya. 

Dia berharap dapat meningkatkan kemampuan bahasa Jepangnya dan memperluas jaringan profesionalnya melalui kesempatan ini.

Bagi mahasiswa lain yang tertarik untuk mengikuti jejak Shalsa, mereka dapat mengunjungi akun Facebook "Japanology" dan menghubungi admin Program Studi Kejepangan untuk informasi lebih lanjut dan formulir pendaftaran magang. 

Selain itu, JIPA juga akan memberikan pelatihan wawancara bahasa Jepang kepada calon peserta magang.

Dengan semangat dan tekad yang kuat, Shalsa Dellia Ridoewan menunjukkan bahwa tak ada hal yang tidak mungkin jika kita berani mencoba dan berusaha. 

“Kalau kita tidak mencoba kita juga tidak akan tau kemampuan kita. Jujur aku sendiri berhasil lolos program magang ini karena awalnya dari coba-coba aja. Jadi pesanku untuk teman-teman yang lain harus tetap semangat. Tidak ada kata yang tidak mungkin selagi kita mau mencoba dan berusaha,” ucapnya.

Ia menjadi inspirasi bagi para mahasiswa untuk tidak takut mengejar mimpi dan memperluas horison mereka melalui pengalaman internasional seperti magang di Jepang.


Editor: Admin

Terkait

Komentar

Terkini