Paleo Diet, Alternatif Menarik di Tengah Kenaikan Harga Beras, Ungkap Pakar UNAIR
Prof Dr Phil Toetik Koesbardiati DFM PA(k), Pakar Paleoantropologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga.
NYALANUSANTARA, Surabaya - Kenaikan harga beras yang terjadi belakangan ini telah menjadi sorotan utama dalam lingkup ekonomi dan budaya Indonesia. Harga beras yang melonjak tidak hanya mencerminkan masalah ekonomi semata, tetapi juga menyoroti dinamika sosial dan budaya yang mendalam.
Prof Dr Phil Toetik Koesbardiati DFM PA(k), seorang Pakar Paleoantropologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), mengungkapkan perspektifnya terkait fenomena ini. Menurutnya, kenaikan harga beras tidak hanya menjadi masalah ekonomi, tetapi juga menandakan nilai budaya yang terkait erat dengan konsumsi beras.
"Kenaikan harga beras membawa implikasi sosial yang dalam. Hal ini mencerminkan struktur kelas sosial dalam masyarakat, di mana ketergantungan pada beras menjadi simbol status ekonomi," jelas Prof. Toetik.
Sejarah domestikasi makanan pokok menunjukkan bahwa beras, sebagai sumber karbohidrat utama, telah menjadi bagian integral dari kehidupan manusia sejak zaman kuno. Namun, dengan kenaikan harga beras yang terus-menerus, masyarakat mulai mencari alternatif pola makan.
Dalam konteks ini, paleo diet muncul sebagai alternatif menarik. "Mengadaptasi pola makan manusia pada zaman dulu tanpa harus memerlukan beras," seperti yang dijelaskan oleh Prof. Toetik, menjadi pilihan menarik bagi sebagian orang.
Meskipun Indonesia memiliki sejarah konsumsi karbohidrat yang beragam, dengan sagu dan umbi-umbian sebagai alternatif tradisional, kesadaran untuk memanfaatkannya belum sepenuhnya terwujud. Namun, seruan untuk kembali pada konsep paleo diet menunjukkan pergeseran minat dalam pola makan masyarakat.
Kenaikan harga beras juga menggugah kesadaran akan urgensi diversifikasi sumber makanan. "Meskipun terdapat kepanikan atas kenaikan harga beras, namun hal ini juga menjadi momentum untuk memperluas pandangan terhadap pola makan yang beragam," tambah Prof. Toetik.
Dengan demikian, di tengah kenaikan harga beras yang terus menerus, masyarakat diminta untuk mempertimbangkan berbagai alternatif pola makan yang lebih beragam dan sesuai dengan kebutuhan individu serta lingkungan. Adaptasi terhadap pola makan yang lebih seimbang dapat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan harga beras yang terus meningkat.
Editor: Admin
Terkait
NYALANUSANTARA, Surabaya - Hari kedua gelaran Wisuda Periode…
NYALANUSANTARA, Surabaya - Hari Minggu (3/3/2024) dipenuhi kegembiraan…
NYALANUSANTARA, Surabaya - Marsha Alycia, mahasiswi Fakultas Hukum…
Terkini
NYALAUSANTARA, SURABAYA- Center for Environmental, Social, and Governance Studies…
NYALANUSANTARA, SURABAYA- Airlangga Education Expo (AEE) 2026 kembali menghadirkan…
NYALANUSANTARA, BANDUNG- Pria memegang peran penting dalam upaya pencegahan…
Talwiinder dan Disha Patani Resmi Umumkan Hubungan, Keluar Bergandengan Tangan di Lollapalooza India
NYALANUSANTARA, MUMBAI- Pernikahan Nupur Sanon dengan musisi Stebin Ben…
NYALANUSANTARA, Agam- Rumah-rumah berdinding papan warna krem, dengan…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Film Patriot yang dibintangi aktor legendaris Mammootty…
NYALANUSANTARA, Tapanuli- Sekolah-sekolah terdampak bencana di Tapanuli Tengah…
Hantu dalam horor Indonesia kian sering kehilangan daya…
NYALANUSANTARA, Pemalang– Pemerintah provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng)…
Kabar menggembirakan datang bagi penggemar film horor dan…
NYALANUSANTARA, Salatiga– Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka…
Komentar