SD As Syafi'iyah Magelang Adakan Peringatan 100 Hari Meninggalnya 10 Ustazahnya

SD As Syafi'iyah Magelang Adakan Peringatan 100 Hari Meninggalnya 10 Ustazahnya

NYALANUSANTARA, Mungkid- Suasana haru menyelimuti SD Islam Tahfidz Qur'an As Syafi'iyah Magelang, saat siswa, guru, dan wali murid berkumpul untuk mengadakan doa bersama, pada Jumat 15 Agustus 2025. Acara itu digelar untuk memperingati 100 hari meninggalnya 10 ustazah yang menjadi korban kecelakaan maut di Kalijambe, Purworejo, pada 7 Mei lalu. 

Momen yang diadakan di Pendopo sekolah ini terasa istimewa, terutama dengan kehadiran dua dari tiga ustazah korban selamat, yaitu Mila Mudianawati dan Suvita.

Kedua ustazah selamat, Mila dan Suvita, disambut dengan hangat oleh para siswa dan guru. Banyak di antara mereka yang tidak dapat menahan air mata haru melihat kondisi keduanya, yang kini menunjukkan pemulihan signifikan pasca kecelakaan.

Habib Muhsin Syafingi, selaku Ketua Yayasan As Syafi'iyah Magelang, menjelaskan bahwa acara doa bersama ini sengaja diadakan pada hari Jumat, meskipun keluarga korban telah melaksanakan doa sehari sebelumnya. Ia juga menegaskan bahwa kedua ustazah yang selamat akan tetap melanjutkan tugas sebagai pendidik di sekolah tersebut, meneguhkan komitmen penuh yayasan terhadap pendidikan dan keberlanjutan proses belajar mengajar.

Habib menambahkan bahwa hubungan silaturahmi dengan keluarga korban yang meninggal juga tetap terjalin dengan baik, termasuk dalam mengikuti proses hukum kasus kecelakaan yang masih berjalan di Polresta Magelang. Keluarga korban telah memberikan kuasa kepada pihak sekolah untuk mengikuti setiap tahapan proses hukum yang ada.

Habib Muhsin juga menginformasikan bahwa Yayasan telah melaksanakan haji badal untuk 10 ustazah dan satu sopir angkutan umum yang menjadi korban meninggal dalam kecelakaan tersebut, sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi yang telah meninggal.

Mila Mudianawati, yang merupakan wali kelas 1 dan salah satu korban selamat, menyatakan rasa syukur atas dukungan yang diberikan oleh keluarga dan sekolah. Meskipun saat ini ia sudah bisa berdiri, Mila masih belum dapat berjalan dengan sempurna, dan diperkirakan proses penyembuhannya akan memakan waktu sekitar tujuh bulan. Mila berpesan kepada para siswa untuk tetap semangat belajar dan tidak pernah meninggalkan mengaji.

Suvita, korban selamat lainnya, mengaku masih membutuhkan penanganan medis dan psikis. Ia bersyukur karena yayasan telah memfasilitasi seorang psikolog yang rutin datang ke rumahnya seminggu sekali, sebuah proses yang sudah berjalan selama dua bulan terakhir.

Sedangkan Kepala Sekolah SD Islam Tahfidz Qur'an As Syafi'iyah, Nurul Faizah, menyampaikan bahwa meskipun tragedi tersebut terjadi, sekolah kini telah bangkit dan berkembang lebih baik. "Sebelum kecelakaan, kami memiliki 30 pendidik, dan sekarang sudah berjumlah 40," ungkap Nurul.

Nurul juga mengakui adanya tantangan dalam adaptasi bagi siswa dan guru baru, namun ia bersyukur karena guru-guru baru telah dapat beradaptasi dengan baik. "Adanya guru baru bukan untuk menggantikan, melainkan untuk meneruskan perjuangan," tegasnya.

Nurul mengajak seluruh civitas akademika SD Islam Tahfidz Qur'an As Syafi'iyah untuk terus mendoakan 10 ustazah yang telah meninggal dunia dan menjaga semangat perjuangan mereka dalam pendidikan.
 


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini