Edukasi Masyarakat, Wisatawan Diajak Ikuti Workshop Melukis Gerabah di Candi Mendut

Edukasi Masyarakat, Wisatawan Diajak Ikuti Workshop Melukis Gerabah di Candi Mendut

NYALANUSANTARA, Mungkid- Candi Mendut di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menjadi saksi dari upaya pelestarian warisan budaya melalui kegiatan edukatif yang berlangsung pada Minggu (31/8). Workshop Membuat dan Melukis Gerabah serta Edukasi Pemugaran Candi Mendut ini diselenggarakan oleh Museum Cagar Budaya Unit Warisan Dunia Borobudur bekerja sama dengan Sanggar Seni Lemah Urip Borobudur, dan diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan dengan antusias.

Sebelum memulai workshop, para peserta diberi pemahaman tentang proses pemugaran Candi Mendut. Winda Diah Puspita Rini, seorang arkeolog dari Museum Cagar Budaya Unit Warisan Dunia Borobudur, memberikan penjelasan rinci tentang proyek pemugaran yang dimulai pada Juli 2025 dan diperkirakan akan berlangsung selama dua tahun.

"Pemugaran Candi Mendut ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh Pemerintah Indonesia," ujar Winda.

Winda juga menjelaskan bahwa pemugaran sebelumnya dilakukan pada masa Kolonial Belanda pada tahun 1897 dan berlangsung selama tujuh tahun. Pemugaran kali ini dilakukan karena adanya kebocoran pada struktur candi yang berpotensi menyebabkan kelembapan, tumbuhnya lumut dan jamur, serta merusak batu candi.

"Setelah melalui studi dan kajian mendalam, akhirnya diputuskan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 10 untuk melakukan pemugaran," tambah Winda.

Peserta mendengarkan penjelasan tersebut dengan seksama, dan suasana semakin hangat saat sesi tanya jawab dibuka. Para peserta juga diberikan kesempatan untuk melihat kondisi candi dari sisi luar, serta dijelaskan tentang detail relief yang terpahat di dinding candi, yang semakin memperkaya pemahaman mereka.

Setelah sesi edukasi, peserta dibagi menjadi dua kelompok sesuai minat, yaitu membuat gerabah dan melukis gerabah. Para seniman dari Sanggar Seni Lemah Urip Borobudur membimbing peserta dalam menciptakan karya seni. Beberapa peserta melukis relief atau sketsa Candi Mendut, sementara yang lain menuangkan imajinasi tentang pemandangan di sekitar candi.

Dian Eka Puspitasari, pegawai Museum Cagar Budaya bagian Pengembangan Bisnis dan Pemanfaatan Aset, menjelaskan tujuan di balik kegiatan ini.

“Kami ingin mengedukasi masyarakat tentang Cagar Budaya dengan cara yang unik. Lokasi di Candi Mendut dipilih untuk meningkatkan kunjungan wisatawan yang sempat menurun akibat pemugaran, sekaligus memberikan pemahaman langsung tentang proses pelestarian,” ujar Dian.

Kegiatan ini direncanakan akan diadakan secara rutin setiap bulan. Gerabah dipilih sebagai media edukasi karena merupakan peninggalan budaya Mataram Kuno yang masih lestari hingga kini dan sering ditemukan dalam relief Candi Borobudur.

Muhammad Jafar, anggota Sanggar Seni Lemah Urip Borobudur, menilai kolaborasi ini sebagai strategi cerdas untuk menarik wisatawan.

“Wisatawan tidak hanya fokus pada proses pemugaran, tetapi juga dapat berpartisipasi dalam kegiatan kreatif seperti workshop gerabah ini,” ujarnya.

Untuk bergabung dalam workshop, calon peserta dapat mendaftar secara daring melalui tautan yang tersedia di akun Instagram Konservasi Borobudur. Biaya pendaftaran sudah mencakup tiket masuk candi. Selain itu, ada hadiah menarik bagi peserta yang mengunggah kegiatan mereka di media sosial, berupa tiket gratis untuk menaiki struktur Candi Borobudur, masuk ke Taman Pintar Yogyakarta, dan Museum Benteng Vredeburg.

Korindah, seorang peserta asal Godean, Yogyakarta, mengaku tertarik mengikuti workshop ini setelah melihat informasi di Instagram.

"Pemaparan dari arkeolognya sangat mudah dipahami dan informatif. Saya jadi tahu kalau pemugaran candi itu melibatkan banyak disiplin ilmu," ungkap Korindah.

Korindah berharap kegiatan edukasi dengan format baru seperti ini bisa terus berlanjut untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap Cagar Budaya.
 


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini