ULASAN Getih Ireng: Teror Darah dan Kutukan Keturunan, Horor Lokal yang Menyayat Jiwa

ULASAN Getih Ireng: Teror Darah dan Kutukan Keturunan, Horor Lokal yang Menyayat Jiwa

 Akting Total dan Visual yang Menusuk Psikologis

Titi Kamal tampil luar biasa sebagai Rina, memerankan penderitaan fisik dan batin dengan ketulusan yang menggetarkan.
Sementara Darius Sinathrya sukses memperlihatkan transformasi Pram dari suami penyayang menjadi sosok rapuh dan tertekan.
Tambahan Sara Wijayanto sebagai karakter misterius juga memberi lapisan spiritual yang memperkuat intensitas cerita.

Salah satu momen paling tak terlupakan adalah kemunculan entitas kakek tanpa busana, yang menimbulkan rasa ngeri sekaligus tidak nyaman — visual horor yang akan terus menghantui ingatan penonton lama setelah film berakhir.

Bagian akhir Getih Ireng menjadi klimaks yang menegangkan dan brutal.
Dengan sinematografi gelap yang terukur, efek suara imersif, dan koreografi adegan konfrontasi yang presisi, adegan pamungkas film ini menegaskan bahwa Park Chan-wook tak hanya mengandalkan kejutan visual, tapi juga drama batin yang mendalam.

Dalam acara press screening di Plaza Senayan, beberapa penonton bahkan memberi tepuk tangan spontan setelah adegan klimaks — sebuah reaksi langka untuk film horor lokal.

Horor yang Bernyawa: Antara Darah, Doa, dan Takdir

Lebih dari sekadar tontonan berdarah, Getih Ireng mengulik sisi terdalam manusia: ketakutan akan kehilangan, garis keturunan, dan masa depan.
Film ini mengingatkan bahwa horor sejati tak selalu datang dari makhluk gaib, melainkan dari rasa bersalah, penyesalan, dan keputusasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini