Ulasan Film Ikkis: Kisah Perang yang Sunyi, Humanis, dan Sarat Emosi

Ulasan Film Ikkis: Kisah Perang yang Sunyi, Humanis, dan Sarat Emosi

Film Ikkis menghadirkan potret perang dengan pendekatan yang tenang, reflektif, dan penuh empati. Disutradarai oleh Sriram Raghavan serta diproduksi Maddock Films milik Dinesh Vijan, film ini menjauh dari glorifikasi nasionalisme berlebihan dan memilih menyoroti sisi kemanusiaan di balik konflik bersenjata.

Alur Cerita

Cerita berpusat pada Brigadir Madan Lal Khetarpal (Dharmendra) yang melakukan perjalanan ke Lahore, Pakistan, dengan dua tujuan utama. Pertama, ia ingin bertemu kembali dengan sahabat-sahabat lama dari masa sekolah dan kuliah, mengingat sebelum pemisahan India–Pakistan, ia pernah menetap di wilayah yang kini menjadi Pakistan. Kedua, dan yang paling penting, ia berusaha memahami keputusan tragis putranya, Letnan Dua Arun Khetarpal (Agastya Nanda), yang gugur dalam Perang India–Pakistan 1971 setelah menolak perintah untuk meninggalkan tanknya demi menyelamatkan diri.

Di Lahore, Brigadir Khetarpal justru dijamu oleh Brigadir Jaan Mohammad Nisaar (Jaideep Ahlawat), komandan Pakistan yang secara tidak langsung terlibat dalam kematian Arun. Selama tiga hari pertemuan mereka, film ini mengurai lapisan kesedihan, rasa bersalah, dan pertanyaan yang tak pernah terjawab, diselingi kilas balik pertempuran tank yang menampilkan keberanian Arun di medan perang.

Hal yang Menjadi Kekuatan

Berbeda dari film perang kebanyakan yang sarat dialog patriotik dan drama besar, Ikkis tampil kalem dan terkendali. Fokus utama film ini adalah emosi manusia, bukan sekadar heroisme. Dialognya sederhana namun mengena, sinematografinya membangun atmosfer yang kuat, dan adegan pertempuran tank—yang jarang dieksplorasi dalam sinema Hindi—terasa segar dan autentik. Efek visual juga digunakan secara proporsional tanpa mengalahkan cerita.

Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah adegan pesta dansa di NDA, yang menampilkan keceriaan dan kepolosan para perwira muda sebelum perang mengubah hidup mereka selamanya.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini