REVIEW Rumah untuk Alie, Ketika Rumah Tak Lagi Jadi Tempat Pulang

REVIEW Rumah untuk Alie, Ketika Rumah Tak Lagi Jadi Tempat Pulang

APA arti sebuah rumah bagi kamu? Pelukan hangat? Kata-kata penyemangat? Atau justru luka yang tak pernah sembuh?

Itulah pertanyaan yang mengawali film Rumah untuk Alie, karya terbaru sutradara Herwin Novianto dan penulis skenario Lottati Mulyani. Film ini mencoba menguliti makna “rumah” yang tak selalu identik dengan rasa aman — terutama bagi mereka yang justru mengalami perundungan dari dalam lingkaran terdekatnya sendiri.

Tokoh utama dalam film ini adalah Alie Ishala Samantha, diperankan dengan apik oleh Anantya Rezky Kirana. Gadis 16 tahun ini hidup dalam bayang-bayang trauma, setelah dituduh menjadi penyebab kematian ibunya lima tahun lalu. Sejak saat itu, Alie menjadi musuh dalam rumahnya sendiri. Julukan "pembunuh" terus melekat, menyisakan luka yang dalam — bukan hanya secara mental, tapi juga emosional.

Rumah, yang seharusnya menjadi pelindung, justru berubah menjadi penjara tak kasat mata bagi Alie.

Dengan latar sosial yang relevan, film ini menyajikan kisah penuh luka, terutama bagi mereka yang pernah mengalami toxic family atau kekerasan verbal dalam rumah tangga. Tak berlebihan jika Rumah untuk Alie disebut sebagai film reflektif yang mengajak penonton untuk melihat lebih jauh: bahwa tak semua luka bisa dilihat dari luar.

Anantya menjadi magnet utama film ini. Penampilannya begitu menyayat, natural, dan berhasil membuat penonton ikut tenggelam dalam kesedihan karakter Alie. Bintang muda ini seolah sudah siap menjadi wajah baru perfilman Indonesia yang layak diantisipasi.

Namun, film ini tidak luput dari kekurangan. Beberapa karakter pendukung terasa kurang kuat pembangunannya. Motif kebencian keluarga terhadap Alie juga terkesan dipaksakan dan kurang dibangun dengan logika yang matang, sehingga beberapa penonton bisa jadi sulit menaruh simpati penuh.

Alur yang terlalu melodramatik di beberapa bagian juga membuat beberapa momen kehilangan pukulan emosionalnya.

Meski demikian, Rumah untuk Alie tetap pantas ditonton, terutama untuk kamu yang menyukai drama psikologis dengan pesan sosial yang kuat. Film ini mengingatkan kita bahwa bullying dalam bentuk apapun, terlebih di rumah sendiri, adalah bentuk kekerasan yang sering terabaikan.

Rekomendasi? Tentu saja iya. Tapi siapkan hati. Ini bukan sekadar drama, ini tamparan.

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini