ULASAN Maareesan, Film Tamil Plot Twist

ULASAN Maareesan, Film Tamil Plot Twist

Maareesan dimulai dengan sebuah tipu daya sederhana: seorang mantan narapidana mencari sasaran empuk, membangun kepercayaan, lalu menguras harta. Daya (Fahadh Faasil), baru keluar dari penjara Palayamkottai, menemukan Velayudham (Vadivelu), seorang lelaki tua yang tampak rapuh, pikun, dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Ada 25 lakh mengendap di rekening, dan jalan menuju kekayaan seolah terbuka lebar. Maka dimulailah perjalanan mereka, naik turun jalan raya, diselingi keributan kecil, pin ATM yang salah, dan bahkan seekor kambing malang di jalur mereka. Namun, paruh pertama terasa terlalu berlama-lama, lebih menguji kesabaran penonton ketimbang membangun ketegangan.

Setelah jeda, Maareesan berubah wajah. Dari drama penipuan yang lambat menjadi thriller main hakim sendiri yang tegas tanpa tedeng aling-aling. Film ini tidak mengajak diskusi panjang tentang benar atau salah, tidak mengurai dilema apakah pelaku kekerasan seksual pantas dimaafkan; ia hanya mengeksekusi, dingin dan langsung. Perubahan nada ini mengejutkan, tapi justru di situlah film menemukan denyutnya.

Yang paling menarik adalah hubungan di antara dua jiwa rusak ini. Daya, pencuri yang diam-diam menemukan etika baru, perlahan melihat Velayudham sebagai ayah yang tak pernah ia miliki. Sementara Velayudham, menyalurkan luka dan kehilangan menjadi dendam yang beku. Tak ada yang sepenuhnya baik, tak ada yang sepenuhnya jahat. Film menyentuh wilayah abu-abu ini, meski tak pernah benar-benar mendalaminya—seolah bertanya: apakah tragedi memberi hak untuk jadi hakim sekaligus algojo? Dan apakah seorang pencuri punya legitimasi untuk menguliahi orang lain soal moralitas?

Vadivelu, setelah Maamannan, sekali lagi membuktikan bahwa ia bisa meninggalkan zona nyaman komedinya. Ia rapuh sekaligus menyeramkan, kadang menyelipkan humor, tapi jelas siap menua dalam peran yang lebih berat. Fahadh, seperti biasa, meyakinkan—membuat perubahan Daya terasa organik meski naskah tak selalu rapi.

Sayangnya, akhir cerita jatuh ke pola lama: polisi muncul tepat waktu, masalah diselesaikan seolah hadiah. Setelah segala kerumitan moral yang ditawarkan, penyelesaian rapi itu terasa menyepelekan. Namun tetap, Maareesan bekerja paling baik saat ia membiarkan kontradiksinya bernapas—dua penjahat, dua korban, dua manusia yang saling menemukan cermin di kegelapan yang mereka ciptakan.


Editor: Holy

Terkait

Komentar

Terkini