Pakar Ekonomi UGM: Investasi Teknologi Tidak Selalu Berdampak Langsung pada Harga Saham di Indonesia
foto ilustrasi istimewa.
NYALANUSANTARA, Yogyakarta- Investasi di bidang teknologi informasi (TI) yang dilakukan oleh perusahaan publik sering kali dianggap sebagai sinyal positif bagi pasar saham. Pengumuman adopsi sistem enterprise resource planning (ERP), penguatan infrastruktur digital, hingga pengembangan layanan digital banking sering diasumsikan akan meningkatkan harga saham secara langsung.
Namun, hal ini tidak selalu berlaku di Indonesia. Singgih Wijayana, SE, MSi, PhD, selaku Dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), menjelaskan bahwa meskipun perusahaan di seluruh dunia berlomba-lomba berinvestasi dalam teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan nilai perusahaan, pasar modal di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda. Pasar modal Indonesia, yang dikenal sebagai "thin market", tidak sepadat pasar di negara maju, sehingga informasi tidak selalu diterima dan diserap dengan cepat oleh investor.
Dalam penelitian yang dilakukan bersama Prof. Didi Achjari, yang berjudul Market Reaction to the Announcement of an Information Technology Investment: Evidence from Indonesia, Singgih dan timnya berupaya menguji respon pasar saham Indonesia terhadap informasi investasi teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah pasar saham Indonesia dapat merespon secara cepat atau membutuhkan waktu lebih lama.
"Penelitian serupa telah dilakukan sebelumnya, tetapi belum menemukan reaksi pasar yang signifikan terhadap pengumuman investasi IT. Keterbatasan periode pengamatan dan jendela reaksi yang sempit menjadi celah yang kemudian diisi oleh riset ini," ujar Singgih saat memaparkan hasil penelitian di FEB UGM, Selasa, 6 Januari 2026.
Melalui riset yang dilakukan, para peneliti menganalisis 179 pengumuman investasi teknologi oleh perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia selama periode 2001-2016. Mereka mengamati pergerakan harga saham sekitar tanggal pengumuman dan hingga 60 hari setelahnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada reaksi pasar yang signifikan di sekitar tanggal pengumuman. Artinya, investor di Indonesia tidak langsung merespon berita tersebut.
Singgih menjelaskan bahwa para investor cenderung menunggu beberapa bulan setelah pengumuman untuk memahami dampak dari investasi teknologi terhadap kinerja perusahaan. Hal ini disebabkan karena investasi TI tidak selalu langsung berdampak positif pada kinerja keuangan. Penelitian juga menemukan bahwa reaksi pasar cenderung lebih kuat pada perusahaan perbankan, perusahaan berukuran kecil, dan perusahaan yang baru pertama kali mengadopsi teknologi seperti ERP.
"Ini menunjukkan bahwa industri, skala bisnis, dan pengalaman perusahaan dalam berteknologi mempengaruhi bagaimana pasar menilai pengumuman investasi IT," ujar Singgih.
Editor: Redaksi
Terkait
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Pasar saham Indonesia dinilai tengah berada dalam…
NYALANUSANTARA, Jakarta- PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank…
Terkini
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi…
NYALANUSANTARA, Semarang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau…
NYALANUSANTARA, TANGGERANG- Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat lonjakan signifikan…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Lenovo mengumumkan perluasan besar pada lini laptop…
NYALANUSANTARA, Semarang — Talud di sepanjang aliran sungai…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Realme resmi meluncurkan Realme Pad 3 di…
NYALANUSANTARA, Semarang - Polres Semarang memeriksa kondisi 75…
NYALANUSANTARA, Semarang - PSIS Semarang resmi datangkan kembali…
NYALANUSANTARA, DEPOK- Legenda Newcastle United dan Liverpool, Kevin Keegan,…
NYALANUSANTARA, Kudus– Guna menjaga khasanah keislaman nusantara, Wakil…
NYALANUSANTARA, Gunungkidul– Sebanyak 109 pedagang di kawasan Pantai…
Komentar