Subsidi Listrik 2026 Naik Jadi Rp 101,72 Triliun, Bahlil: Karena Jumlah Pelanggan PLN Bertambah

Subsidi Listrik 2026 Naik Jadi Rp 101,72 Triliun, Bahlil: Karena Jumlah Pelanggan PLN Bertambah

NYALAUSANTARA, CIAMIS- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan alasan kenaikan subsidi listrik dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang mencapai Rp 101,72 triliun. Jumlah ini melonjak sekitar 15,9 persen dari alokasi dalam APBN 2025 sebesar Rp 87,72 triliun.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR, Rabu (27/8), Bahlil memaparkan bahwa kenaikan subsidi listrik disebabkan oleh penambahan jumlah pelanggan PLN. “Subsidi listrik sebesar Rp 101,72 triliun. Ini rakyat kita harus perhatikan,” ujarnya.

Meski begitu, Bahlil belum merinci berapa besar kenaikan jumlah pelanggan yang dimaksud. Ia menyebut detail tersebut akan dijelaskan lebih lanjut pada rapat selanjutnya, sembari menekankan pentingnya pengawasan terhadap implementasi anggaran subsidi untuk PLN.

Rincian Usulan Subsidi Energi 2026

Selain subsidi listrik, Kementerian ESDM juga mengusulkan volume BBM bersubsidi dalam RAPBN 2026 sebesar 19,16 juta kiloliter (KL), terdiri dari:

Minyak tanah: 526 ribu KL

Minyak solar: 18,63 juta KL, dengan subsidi tetap Rp 1.000 per liter

LPG 3 kg: sekitar 8 juta ton

Data Penjualan dan Pelanggan Listrik

Dalam bahan paparan ESDM, tercatat tren peningkatan volume penjualan dan jumlah pelanggan listrik bersubsidi:

APBN 2025: 73,13 TWh, outlook 76,63 TWh, dengan 42,08 juta pelanggan (outlook 43,43 juta).

RAPBN 2026: penjualan diproyeksi naik ke 81,56 TWh dengan jumlah pelanggan meningkat menjadi 44,88 juta.

Kenaikan ini, menurut Bahlil, menjadi dasar mengapa subsidi listrik tahun depan perlu ditambah agar kebutuhan energi masyarakat tetap terjaga.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini