Berbekal Ketekunan, Mahasiswi FIB UNAIR Raih Anugerah Sutasoma Terbaik dari Balai Bahasa Jawa Timur
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi membanggakan. Nanda Alifya Rahmah, mahasiswi Program Studi Magister Kajian Sastra dan Budaya, berhasil meraih Anugerah Sutasoma 2025 untuk kategori Buku Esai/Kritik Sastra Terbaik yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.
Nanda menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas pencapaian tersebut. Ia berharap penghargaan ini dapat membuka ruang lebih luas bagi perkembangan kritik sastra, khususnya pada genre puisi Indonesia.
“Saya berharap penghargaan ini dapat memperluas gaung publikasi kritik sastra. Senang rasanya karena buku ini kini bisa dikenal lebih banyak orang,” ujarnya.
Berawal dari Ketertarikan terhadap Puitika Lirik
Nanda menjelaskan bahwa karya yang ia tulis berangkat dari ketertarikannya pada puitika lirik dalam karya penyair Indra Tjahyadi. Ia mengungkapkan bahwa buku tersebut merupakan pengembangan dari skripsi sarjana yang sebelumnya juga meraih penghargaan.
“Buku ini sebenarnya diadaptasi dari skripsi S1 saya, yang pernah mendapat penghargaan manuskrip terbaik dalam ajang Manuskrip Dewan Kesenian Jawa Timur 2018. Hanya saja, waktu itu belum sempat terpublikasi secara luas,” jelasnya.
Nanda menambahkan bahwa tema yang ia pilih cukup jarang dikaji dalam dunia kritik sastra Indonesia. Ia meneliti aspek puitika sebagai sistem dan struktur teks dalam puisi Indonesia.
“Puitika saya pahami sebagai konvensi bahasa dan sistem teks dalam puisi. Dari buku utama yang saya pelajari, saya mencoba merumuskan pola pembangunan tekstualnya,” tuturnya.
Ketekunan dalam Meneliti Puisi
Menurut Nanda, kajian terhadap puisi Indonesia selama ini masih didominasi pendekatan impresif dan semantik sederhana, atau hanya menyoroti nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Padahal, aspek kebahasaan dan gaya bahasa memiliki peran penting dalam memahami kekuatan puisi.
“Puisi adalah bentuk tertinggi dari kepekaan bahasa. Ia memiliki struktur dan potensi linguistik yang sangat ketat, dan hal inilah yang seharusnya lebih banyak dikaji dalam studi puisi Indonesia,” tegasnya.
Editor: Lulu
Terkait
NYALANUSANTARA, Jakarta - Universitas Airlangga (UNAIR) menorehkan prestasi…
NYALANUSANTARA, Surabaya - Kedatangan para pengungsi Rohingya menjadi…
Terkini
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Film bertabur bintang The Man Who…
NYALANUSANTARA, SEOUL- Film kriminal terbaru Project Y kembali mencuri…
Setelah 15 tahun berlalu, 3 Idiots akhirnya akan…
NYALANUSANTARA, MUMBAI- Border 2 menjadi salah satu film paling…
Menjelang akhir 2025, Mertua Ngeri Kali muncul sebagai…
Qorin 2 kembali menghantui layar lebar dengan konsep…
NYALANUSANTARA, BOGOR- Geely kembali menarik perhatian industri otomotif global…
NYALANUSANTARA, Kebumen – Bank Jateng menunjukkan komitmennya dalam…
NYALANUSANTARA, Semarang – PDAM Tirta Moedal Kota Semarang…
NYALANUSANTARA, Banyumas – PT KAI Daop 5 Purwokerto…
NYALANUSANTARA, Brebes – Sebagai lembaga keuangan daerah yang…
Komentar