Beri Edukasi Terkait Bahaya Pernikahan Dini, Mahasiswa BBK 7 Unair Sampaikan REPROSMART ke Siswa MI dan SMP

Beri Edukasi Terkait Bahaya Pernikahan Dini, Mahasiswa BBK 7 Unair Sampaikan REPROSMART ke Siswa MI dan SMP

NYALANUSANTARA, Gresik- Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga (Unair) mengimplementasikan program unggulan bertajuk "REPROSMART" di Desa Golokan, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Program yang berfokus pada edukasi mengenai bahaya pernikahan dini dan pemahaman ciri-ciri pubertas itu secara khusus menyasar siswa kelas lima dan enam di MI Muhammadiyah Golokan serta pelajar kelas tujuh dan delapan di SMP 9 Muhammadiyah Golokan. 

Inisiatif itu digerakkan secara kolektif oleh seluruh anggota tim dengan prinsip tanggung jawab bersama, sebagaimana ditegaskan dalam pernyataan mereka, “Setiap anggota kelompok terlibat aktif dan berkontribusi penuh dalam seluruh rangkaian kegiatan”.

Program "REPROSMART" digagas sebagai respons atas tingginya angka pernikahan dini di Desa Golokan, yang dipersepsikan berbanding lurus dengan masih terbatasnya pemahaman siswa mengenai tanda-tanda pubertas. Selama ini, edukasi terkait kedua topik ini dinilai sangat minim akibat adanya stigma bahwa pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi dan risiko pernikahan dini dianggap tabu. Padahal, pemahaman tersebut krusial mengingat dampak negatif pernikahan dini yang sangat serius, baik bagi kesehatan ibu maupun anak. 

“Kami melihat pembahasan seputar bahaya pernikahan dini masih sering dihindari, sementara pemahaman tentang pubertas tidak banyak disentuh. Oleh karena itu, kami merasa perlu menghadirkan program edukasi yang efektif dan bermanfaat bagi anak-anak,” ungkap tim BBK 7 Golokan, menjelaskan urgensi dari program ini.

Konsep "REPROSMART" dirancang dengan pendekatan yang partisipatif dan menarik, bertujuan membangun suasana belajar yang nyaman dan interaktif. Setelah berkoordinasi dengan pihak sekolah, tim menyampaikan materi melalui metode yang dinamis, salah satunya dengan mengajak peserta menyanyi dan menari bersama untuk menginternalisasi pesan-pesan penting mengenai pencegahan pernikahan dini. Strategi ini diharapkan dapat menghilangkan kejenuhan dan meningkatkan pemahaman serta daya ingat peserta didik.

“Tahap awal kami adalah berkoordinasi dengan sekolah untuk menyusun jadwal. Selanjutnya, kami merancang gerakan dan lagu yang menarik untuk dinyanyikan serta diikuti oleh seluruh peserta. Sesi edukasi diawali dengan penyampaian materi secara komprehensif, kemudian ditutup dengan aktivitas menyanyi dan menari bersama sebagai penguatan pesan,” jelas tim mengenai mekanisme pelaksanaannya. 

Program yang berlangsung selama dua hari, yaitu pada 12 Januari 2026 di MI Muhammadiyah Golokan dan 13 Januari 2026 di SMP 9 Muhammadiyah Golokan, sukses menciptakan atmosfer belajar yang aktif, menyenangkan, dan berkesan.


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini