Antusiasme Penonton Warnai Screening “Feminine, Masculine” di Oudetrap

Antusiasme Penonton Warnai Screening “Feminine, Masculine” di Oudetrap

NYALANUSANTARA, Semarang — Antusiasme penonton terasa kuat dalam gelaran screening bertajuk “Feminine, Masculine” yang berlangsung di Gedung Oudetrap, Kamis (2/4). Program hasil kolaborasi Hysteria, Laki-Laki Masak, dan Alliance Française Semarang ini menghadirkan maraton lima film yang mengangkat isu gender, maskulinitas, dan femininitas dari beragam sudut pandang.

Sejak sebelum acara dimulai, penonton sudah mulai berdatangan dan memenuhi ruang pemutaran. Kursi-kursi yang tersedia terisi cukup cepat, sementara beberapa pengunjung tampak memilih duduk di area belakang untuk tetap bisa mengikuti keseluruhan rangkaian. Suasana hangat dan penuh rasa ingin tahu terasa sejak awal, terutama karena tema yang diangkat cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, namun jarang dibahas secara terbuka.

Program screening ini menghadirkan lima film dengan pendekatan yang berbeda-beda, mulai dari eksplorasi identitas, relasi personal, hingga tekanan sosial terhadap peran gender. Perbedaan gaya visual dan narasi justru menjadi kekuatan dari rangkaian ini, karena memberikan pengalaman menonton yang tidak monoton sekaligus memantik refleksi yang berlapis.

Selama pemutaran berlangsung, penonton terlihat cukup fokus mengikuti setiap film. Beberapa momen bahkan memunculkan respons spontan, seperti tawa kecil, keheningan yang terasa panjang, hingga bisik-bisik ringan antarpenonton yang mencoba mencerna adegan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa film yang diputar tidak hanya dinikmati secara visual, tetapi juga memancing keterlibatan emosional.

Lala dari Hysteria menyampaikan bahwa animo penonton dalam screening kali ini cukup terasa, terutama karena banyak yang bertahan hingga sesi akhir. Menurutnya, hal tersebut menjadi indikator bahwa isu yang diangkat memang relevan dan menarik bagi publik.

“Yang datang tuh kelihatan emang pengin nonton dan ngikutin sampai selesai, bukan cuma mampir. Bahkan pas film terakhir juga masih banyak yang stay, itu jarang banget sih,” ujar Lala.

Ia juga menambahkan bahwa ketertarikan penonton tidak hanya pada filmnya, tetapi juga pada ruang diskusi yang dibuka setelahnya. “Kayaknya sekarang orang-orang mulai butuh ruang buat ngobrolin hal-hal kayak gini, jadi bukan cuma nonton terus pulang,” lanjutnya.


Editor: Holy

Komentar

Terkini