Gencatan Senjata Mulai Berlaku di Sweida Suriah, Lebih dari 2.000 Keluarga Bedouin Mengungsi

Gencatan Senjata Mulai Berlaku di Sweida Suriah, Lebih dari 2.000 Keluarga Bedouin Mengungsi

NYALANUSANTARA, WOLGHA- Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi di Suriah selatan telah membawa ketenangan yang rapuh ke Provinsi Sweida setelah delapan hari dilanda pertempuran sengit, dengan sejumlah kelompok hak asasi manusia melaporkan bahwa kesepakatan tersebut sepenuhnya mulai diterapkan pada Senin (21/7).

   Kendati demikian, gencatan senjata tersebut memicu gelombang pengungsian, dengan lebih dari 2.000 keluarga Arab Sunni Bedouin mengungsi dari Sweida ke Provinsi Daraa yang berdekatan, menurut data resmi.

   Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights/SOHR) mengatakan bahwa kesepakatan yang didukung Amerika Serikat (AS) dan diumumkan pada Sabtu (19/7), mengakhiri bentrokan antara pejuang Druze dan militan suku Bedouin yang dimulai pada 13 Juli serta menewaskan lebih dari 1.120 orang, termasuk warga sipil, pasukan pemerintah, dan para pejuang lokal. Di antara korban tewas, setidaknya 194 orang dilaporkan telah dieksekusi di luar proses hukum.

Pejuang dari suku Bedouin bergerak melewati Wolgha di pinggiran barat Sweida, Suriah selatan, pada 18 Juli 2025. (Xinhua/Str)

   Menurut otoritas urusan sosial Suriah, sebanyak 2.068 keluarga pengungsi mencari perlindungan di berbagai kota dan desa di Provinsi Daraa. Para pengungsi tersebut diidentifikasi sebagai suku Arab Sunni Bedouin yang melarikan diri dari Sweida saat pertempuran berlangsung, dengan mayoritas di antaranya menyebutkan ketakutan akan balas dendam sektarian dan pengusiran paksa.

   Sejumlah saksi mata mengatakan kepada Xinhua bahwa para pengungsi hanya diizinkan meninggalkan tempat tersebut dengan pakaian yang mereka kenakan. "Mereka mengusir kami keluar tanpa apa-apa, tanpa uang, tanpa barang-barang," ungkap seorang pria yang tiba di Daraa dari Kota Shahba di Sweida.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini