ULASAN Champion: Gagasan Sejarah Besar yang Tersandung Eksekusi

ULASAN Champion: Gagasan Sejarah Besar yang Tersandung Eksekusi

Desa Bhairanpally di Telangana memiliki tempat penting dalam sejarah karena keberaniannya melawan Razakars, pasukan milisi pribadi pada masa pemerintahan Nizam di Hyderabad. Ketika sebagian besar India merdeka pada 1947, Negara Bagian Hyderabad justru masih berada di bawah kekuasaan Nizam. Kasim Razvi membentuk Razakars dan menebar teror terhadap siapa pun yang menentangnya. Di tengah kekejaman itu, warga Bhairanpally bangkit melawan, menjadikan desa tersebut salah satu simbol perlawanan awal terhadap penindasan Razakar.

Sutradara Pradeep Advaitham menjadikan pemberontakan bersejarah Bhairanpally sebagai latar film Champion, dengan menambahkan unsur fiksi ke dalamnya. Secara konsep, gagasan ini menjanjikan. Namun, mengingat film ini bertumpu pada salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Telangana, penceritaan seharusnya dipenuhi emosi yang kuat dan pendekatan yang lebih menggugah.

Champion dibintangi Roshan Meka, Anaswara Rajan, Nandamuri Kalyan Chakravarthy, Kay Kay Menon, VK Naresh, dan Vennela Kishore. Cerita berfokus pada Michael Williams (Roshan Meka), seorang pesepak bola asal Secunderabad yang bermimpi pergi ke London untuk bermain bagi klub Manchester. Namun, karena ayahnya pernah melawan Inggris, Michael dilarang masuk ke London. Kesempatan kedua datang dengan syarat berbahaya: ia harus menyelundupkan senjata tanpa sepengetahuan Razakars.

Serangkaian peristiwa tak terduga membawa Michael ke Bhairanpally. Di sana, ia bertemu Kalavathi (Anaswara Rajan), yang bersama warga desa menulis dan mementaskan drama panggung sebagai sarana membangkitkan kesadaran dan perlawanan terhadap penindasan. Meski awalnya tetap terobsesi dengan mimpinya ke London, Michael perlahan terseret ke dalam perjuangan penduduk desa melawan kekejaman Razakar. Dilema antara ambisi pribadi dan keberpihakan pada perlawanan rakyat menjadi inti konflik cerita.

Sayangnya, meski cerita debut penyutradaraan Pradeep Advaitham terlihat menarik di atas kertas, eksekusinya terasa mengecewakan. Upaya memadukan sejarah dengan fiksi justru membuat film kehilangan fokus. Jika dibandingkan dengan Razakar (2024) yang mengangkat tema serupa dan lebih setia menggambarkan kebrutalan Kasim Razvi serta tragedi Bhairanpally, Champion gagal menghadirkan kedalaman emosional yang sepadan.

Narasi film terlalu bertele-tele, dipenuhi adegan yang minim kontribusi terhadap cerita utama. Adegan sepak bola pembuka kurang membekas, subplot Kovai Sarala terasa sia-sia, dan bahkan setelah Michael tiba di Bhairanpally, cerita masih berputar-putar hingga jeda. Ide misi rahasia penyelundupan senjata sebenarnya menarik, tetapi penyajiannya tidak membangun ketegangan. Alur romansa antara Michael dan Kalavathi memberi sedikit daya tarik lewat pementasan teater, namun porsinya kecil dan datang terlambat—Anaswara baru muncul hampir 45 menit setelah film dimulai.

Babak kedua justru semakin kehilangan arah. Sutradara mengambil kebebasan sinematik berlebihan, seperti adegan tidak masuk akal di mana seorang perwira mengancam membunuh warga desa jika Michael gagal mencetak gol dalam waktu tertentu. Konflik utama menguap, digantikan elemen-elemen yang tidak relevan, dan kedalaman emosional yang seharusnya menjadi kekuatan utama sama sekali tak terasa. Lagu “Gira Gira” menjadi satu-satunya titik terang, meski ironisnya lebih sering digunakan sebagai latar ketimbang adegan musikal utuh.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini