ULASAN Sadali, Kelanjutan Kisah Cinta yang Lebih Dewasa dan Reflektif

ULASAN Sadali, Kelanjutan Kisah Cinta yang Lebih Dewasa dan Reflektif

Film Sadali hadir sebagai kelanjutan dari Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu, adaptasi karya Pidi Baiq yang sebelumnya berhasil memikat penonton. Masih digarap oleh sutradara Kuntz Agus dan diproduksi MVP Pictures, film ini menawarkan pendekatan cerita yang lebih tenang, matang, dan kontemplatif. Jika film sebelumnya dipenuhi gejolak emosi cinta, Sadali justru mengajak penonton menyelami perjalanan batin seorang seniman yang berusaha berdamai dengan masa lalunya.

Berlatar Tiga Tahun Setelah Film Pertama

Cerita Sadali berlangsung tiga tahun setelah peristiwa di film sebelumnya. Menariknya, penonton yang belum menonton Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu tetap dapat mengikuti alurnya dengan baik. Kilas balik disisipkan secara halus sebagai penghubung emosional, membantu memahami relasi antara Sadali, Mera, dan Arnaza tanpa terasa memaksa.

Sadali (Ajil Ditto) kini digambarkan sebagai pelukis yang tengah menyiapkan pameran tunggal. Namun, kreativitasnya justru menemui jalan buntu. Emosi yang dahulu menjadi bahan bakar berkarya—amarah, rindu, dan kegelisahan—seakan menghilang. Lukisan-lukisannya dinilai kurator belum utuh, kehilangan jejak personal sang seniman.

Seni sebagai Representasi Luka yang Belum Pulih

Di sinilah kekuatan utama Sadali muncul. Film ini memosisikan seni sebagai cermin kegelisahan batin. Sadali dipaksa menyadari bahwa dirinya belum sepenuhnya selesai dengan masa lalu. Perasaan terpendam, keputusan yang tak pernah tuntas, serta cinta yang tertinggal perlahan mengaburkan arah hidupnya.

Konfrontasi emosional itu kian terasa ketika Arnaza (Hanggini) datang ke Yogyakarta bersama suaminya dan singgah di Magelang. Tanpa direncanakan, tempat tersebut menjadi ruang pertemuan tiga hati yang masih menyimpan luka dan rasa yang belum benar-benar usai.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini