ULASAN I Was a Stranger: Drama Kemanusiaan yang Mengendap dalam Sunyi

ULASAN I Was a Stranger: Drama Kemanusiaan yang Mengendap dalam Sunyi

Yasmine Al Massri tampil solid sebagai Amira dengan akting yang tenang dan membumi. Tanpa ledakan emosi berlebihan, kelelahan, ketakutan, dan secercah harapan terpancar jelas dari raut wajah dan gesturnya. Omar Sy juga tampil berbeda dari peran-peran populernya, menghadirkan sosok abu-abu yang rapuh namun terasa sangat manusiawi.

Brandt Andersen mengarahkan film ini dengan kepekaan tinggi. Kamera kerap berada dekat dengan wajah para tokoh, seolah mengajak penonton masuk ke ruang paling personal mereka. Sinematografi yang gelap, pencahayaan minimal, serta palet warna kusam memperkuat kesan keterasingan dan tekanan psikologis yang terus membayangi.

Tanpa Menghakimi, Mengajak Merenung

Salah satu kekuatan utama I Was a Stranger terletak pada sikapnya yang tidak menghakimi. Tak ada karakter yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Semua berada dalam wilayah abu-abu, sebagaimana kehidupan nyata. Film ini tidak menawarkan solusi mudah, melainkan mengajukan pertanyaan tentang empati, pilihan, dan arti sebuah “rumah”.

Menjadi orang asing dalam film ini bukan semata soal berpindah negara. Ia juga tentang kehilangan rasa memiliki, keterasingan dari keadaan, bahkan dari diri sendiri. Semua disampaikan tanpa khotbah, lewat interaksi sederhana antarmanusia.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini