ULASAN Dan Da Dan: Evil Eye — Kombinasi Recap, Aksi Supernatural, dan Wawancara Kreatif di Layar Lebar
Kalau kamu penggemar Dan Da Dan, bersiaplah untuk kembali masuk ke dunia supernatural yang kacau, absurd, tapi tetap seru. Dan Da Dan: Evil Eye hadir sebagai pengalaman bioskop yang patut masuk daftar tontonanmu—meskipun formatnya bukan film penuh.
Film ini merupakan gabungan dari ringkasan musim pertama, tiga episode pertama musim kedua, serta tambahan wawancara eksklusif bersama sang sutradara. Seru? Iya. Tapi juga ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui sebelum menontonnya.
Review Dan Da Dan: Evil Eye – Campuran Aksi, Humor, dan Kacauan Supranatural
1. Kisah Momo, Okarun, dan Jiji Melawan Misteri Rumah Terkutuk
Fokus cerita kali ini berada pada petualangan Momo, Okarun, dan Jiji ke sebuah kota pemandian, di mana mereka membantu keluarga Jiji menghadapi rumah berhantu. Arc “Cursed House” ini langsung menyuguhkan aksi supranatural, dibalut humor khas Dan Da Dan.
Namun, karena adaptasinya hanya mencakup hingga bab 45 manga, alur ceritanya berakhir pada momen yang menggantung.
2. Visual Neon dan Animasi Spektakuler
Studio Science SARU menunjukkan kelasnya dalam urusan animasi. Palet warna cerah seperti ungu, merah, dan emas menjadikan setiap adegan pertarungan terasa hidup dan menegangkan.
Evil Eye yang menyeramkan, cacing raksasa, hingga tampilan kota dengan detail tambahan membuat pengalaman visual semakin istimewa—bahkan ada adegan eksklusif yang tak ada di manganya.
3. Spotlight untuk Jiji
Jiji, teman masa kecil Momo, menjadi karakter yang lebih menonjol kali ini. Latar belakang keluarganya yang misterius serta perannya dalam tim mulai terasa kuat.
Kehadiran Turbo Granny tetap jadi pemecah suasana dengan aksi kocaknya, namun sorotan terhadap Jiji memberi warna baru dalam dinamika cerita.
Meski begitu, penonton baru bisa saja merasa kesulitan mengikuti hubungan antar karakter, karena bagian recap tidak cukup dalam untuk menjelaskan relasi Jiji dan Okarun secara emosional.
4. Musik Techno yang Suram dan Intens
Musik techno yang menghantui berhasil memperkuat suasana horor dalam arc ini. Setiap adegan aksi jadi terasa lebih mencekam.
Sayangnya, film ini tidak menampilkan opening theme khas anime yang biasanya bisa memancing antusiasme lebih tinggi di awal cerita.
5. Wawancara Sutradara: Menarik tapi Mengganggu Alur
Salah satu bagian unik dari film ini adalah dua segmen wawancara berdurasi total sekitar 20 menit bersama Fuga Yamashiro dan Abel Gongora. Mereka mengulas proses kreatif dan tantangan produksi.
Meski wawancara ini informatif, penempatannya di tengah cerita malah mengganggu ritme menonton. Bagi penonton yang hanya ingin menikmati cerita, bagian ini bisa terasa seperti jeda tak perlu.
Editor: Lulu
Terkait
Dalam debut penyutradaraannya, Jesse Eisenberg mengangkat tema kesehatan…
Awalnya hanya ingin menenangkan diri dengan berlibur ke…
Terkini
NYALANUSANTARA, Cilacap- Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti,…
NYALANUSANTARA, Cilacap- Pemerintah Kabupaten Cilacap menggelar Musyawarah Perencanaan…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Pemerintah Indonesia memastikan bahwa kondisi perekonomian…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional dalam…
NYALANUSANTARA, Salatiga- Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, melakukan…
NYALANUSANTARA, Bawen- Jalan tol ruas Bawen-Ambarawa akan dibuka…
NYALANUSANTARA, Demak- Kedatangan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj…
NYALANUSANTARA, Semarang- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng)…
NYALANUSANTARA, Semarang – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas…
NYALANUSANTARA, Semarang – Kanwil Kemenkum Jateng kembali melaksanakan…
NYALANUSANTARA, Semarang - Ajang lari tahunan Semarang 10K…
Komentar