Review Assalamualaikum Beijing 2: Menyusuri Jejak Cinta dan Iman di Negeri Orang
Sepuluh tahun setelah kisah pertamanya menyentuh hati jutaan penonton Indonesia, film Assalamualaikum Beijing kembali hadir lewat sekuel berjudul Assalamualaikum Beijing 2: Lost in Ningxia. Dalam film ini, penonton diajak menelusuri perjalanan emosional yang lebih dalam, matang, dan tetap memukau secara visual.
Disutradarai oleh Guntur Soeharjanto, sekuel ini tidak sekadar kelanjutan cerita, tetapi menjadi refleksi spiritual yang menyentuh, dibalut romansa lintas budaya. Dengan latar eksotik Tiongkok yang jarang dieksplorasi oleh film Indonesia, kisah ini menampilkan keindahan visual yang tak biasa dan emosionalitas yang kuat.
Cerita berfokus pada Aisha, seorang jurnalis muda yang memilih memeluk Islam demi cintanya kepada Arif. Ia melakukan perjalanan ke Ningxia, Tiongkok, tempat Arif melanjutkan studinya. Namun, setibanya di sana, Aisha mendapati bahwa Arif menghilang tanpa jejak. Di tengah budaya dan bahasa yang asing, Aisha merasa kehilangan arah.
Di sinilah Mo muncul—seorang pemuda Tionghoa-Indonesia yang tinggal di Ningxia. Ia menawarkan bantuan, bukan hanya untuk mencari Arif, tetapi juga menjadi teman dalam pencarian spiritual dan emosional Aisha. Lewat ketenangan dan ketulusannya, Mo perlahan menjadi tumpuan baru bagi Aisha. Kini, pencarian Aisha bukan lagi soal Arif semata, tapi juga tentang jati diri dan makna cinta sejati.
Ketika Arif akhirnya kembali, dilema batin Aisha semakin dalam. Ia bukan lagi perempuan yang sama; ia tumbuh menjadi sosok yang lebih kuat dan bijak. Aisha kini harus memilih: apakah cinta yang dulu masih layak diperjuangkan, atau justru perasaan baru yang tumbuh bersama perjalanan batinnya?
Secara sinematik, film ini menampilkan pemandangan Ningxia dan Xi’an yang menawan—kawasan dengan sejarah Islam yang kental. Kabut salju yang menyelimuti masjid, serta jalan-jalan kecil dengan lampion merah menciptakan nuansa spiritual yang kuat. Cuaca ekstrem saat proses syuting bahkan mempertegas perasaan terasing yang dialami Aisha.
Tak hanya narasi dan visual, aspek musikal juga diperhatikan. Lagu-lagu seperti “Atas Izin-Mu” dan “Rahmatilah” memperkuat suasana hati dalam adegan-adegan yang penuh perenungan, menjadikan film ini lebih dari sekadar hiburan—ia adalah pengalaman emosional dan spiritual.
Editor: Lulu
Terkait
NyalaNusantara.com, Semarang - Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti…
NYALANUSANTARA, SEMARANG- Drama aksi Sikandar yang dibintangi Salman Khan…
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas…
NYALANUSANTARA, Semarang – Kanwil Kemenkum Jateng kembali melaksanakan…
NYALANUSANTARA, Semarang - Ajang lari tahunan Semarang 10K…
NYALANUSANTARA, Semarang – PT KAI Wisata memperkuat kolaborasi…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Kota Guixi di Provinsi Jiangxi, China kini…
NYALANUSANTARA, Cilacap – Tim SAR Cilacap melaksanakan evakuasi…
NYALANUSANTARA, Semarang - Pertumbuhan pengguna mobil listrik di…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Universitas Paramadina melalui The Lead Institute menggelar…
Jamin Kelancaran Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026, Polda Jateng Siapkan Strategi Aglomerasi Wilayah
NYALANUSANTARA, Semarang – Polda Jateng menyatakan telah menyiapkan…
NYALANUSANTARA, Banyumas - Menjelang pelaksanaan Operasi Ketupat Candi…
NYALANUSANTARA, Semarang – PT KAI Daop 4 Semarang…
Komentar