ULASAN Selepas Tahlil: Horor yang Serius Tapi Kurang Menggigit

ULASAN Selepas Tahlil: Horor yang Serius Tapi Kurang Menggigit

Tidak ada hal yang benar-benar memalukan dalam Selepas Tahlil, adaptasi dari salah satu cerita siniar Lentera Malam. Namun film ini malah jatuh pada dosa yang sering dilakukan horor lokal: monoton dan kurang variasi. Ia mengulang pola lama—kisah tentang perjanjian dengan setan, kematian yang tak wajar, dan suasana duka di tengah ritual tahlilan—semuanya dibungkus dalam pendekatan yang Jawa-sentris dan kental nuansa Islam, tanpa banyak penyegaran.

Kisah berpusat pada Saras (Aghniny Haque) dan Yudhis (Bastian Steel) yang ingin memakamkan ayah mereka, Hadi (Epy Kusnandar), tetapi dihantui oleh gangguan supranatural. Di tengah tahlilan, jasad Hadi tiba-tiba bangkit dan menyampaikan ancaman maut terhadap keluarganya. Adegan seperti ini sudah terlalu sering diulang dalam horor Indonesia, hingga kehilangan daya kejut.

Konflik utama muncul dari wasiat Hadi yang ingin dimakamkan di kampung halaman, bertabrakan dengan keinginan Saras yang ingin tetap dekat dengan sang ayah. Naskah karya Husein M. Atmodjo tampak ingin mengangkat tema penolakan atas kehilangan, namun hanya menyentuh permukaan. Penampilan Aghniny tetap intens dan penuh emosi, namun tidak cukup untuk menambal naskah yang dangkal dan cenderung repetitif—apalagi saat adegan tahlilan diulang tanpa variasi berarti.

Meski demikian, niat untuk membuat horor serius terasa. Adriano Rudiman selaku sutradara cukup cermat menjaga ritme agar filmnya tidak terlalu terburu-buru ataupun stagnan. Ia juga menahan diri untuk tidak sekadar menyajikan parade penampakan. Sayangnya, semua itu tidak cukup. Ketika cerita dan tensi tidak dibangun dengan kuat, hasil akhirnya adalah film yang terasa ingin bicara banyak, tapi tidak benar-benar menyampaikan apa-apa.

Kengerian pun terasa tumpul. Sejak adegan pembuka, film gagal menciptakan atmosfer yang menyeramkan. Padahal, pembukaan adalah momen krusial untuk memancing ketertarikan penonton. Ketika klimaksnya hanya berisi adegan rukiah yang datar dan tak menawarkan kejutan, film ini semakin kehilangan daya cengkeram.

Selepas Tahlil memang dikerjakan dengan niat baik dan kemasan teknis yang layak, tapi sayangnya tidak dibarengi dengan narasi yang segar ataupun teror yang menggigit. Sebuah horor yang sungguh-sungguh, namun kehilangan nyawa di inti ceritanya.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini