ULASAN Siapa Dia: Kapsul Waktu Seni dan Sejarah dalam Musikal Puitis Garin Nugroho
Indonesia sejak lama dikenal sebagai negeri penuh irama dan gerak—dari keroncong, dangdut, hingga campursari; dari tari kecak, jaipong, sampai cakalele. Julukan “negeri nyanyian dan tarian” terasa tepat, dan inilah yang coba dirangkum Garin Nugroho lewat film Siapa Dia. Karya ini tampil bak kapsul waktu yang menyatukan seni, sejarah, dan kisah cinta lintas generasi.
Film ini dibagi menjadi tiga babak plus prolog dan epilog, dengan Layar (Nicholas Saputra) sebagai pusat kisah. Seorang bintang film yang ingin membuat musikal, ia menelusuri koper berisi jejak leluhurnya bersama dua asistennya, Denok (Widi Mulia) dan Rintik (Amanda Rawles). Dari sana, penonton dibawa melintasi waktu: buyut yang menggemari komedi stambul di era kolonial, kakek yang menghadapi pergolakan seni tahun 1965, hingga ayah yang bersinggungan dengan budaya perlawanan di masa Orde Baru. Semua kisah berkelindan dengan tragedi percintaan yang terus berulang.
Gaya penceritaannya puitis sekaligus liar, penuh lompatan narasi. Namun di balik keindahannya, sulit tercipta ikatan emosional mendalam dengan tokoh-tokohnya. Meski begitu, penampilan para pemain tetap mencuri perhatian, dari Nicholas Saputra yang konsisten solid, hingga Morgan Oey dan Dira Sugandi yang menonjol lewat tarian serta vokal mereka.
Selain perjalanan personal, Siapa Dia juga menyuguhkan parade sinema Indonesia, dari Loetoeng Kasaroeng (1926), Badai Pasti Berlalu (1977), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), sampai film kekinian. Bahkan, Garin menyandingkan KKN di Desa Penari (2022) dengan Yuni (2021) karya sang putri, Kamila Andini, menegaskan posisinya sebagai pencatat sejarah ketimbang penilai.
Secara artistik, film ini kental dengan nuansa teater. Dari gestur para aktor, dialog yang seperti ditujukan langsung pada penonton, hingga tata panggung yang memengaruhi mise-en-scène. Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana pertunjukan panggung menjadi fondasi lahirnya sinema Indonesia.
Siapa Dia mungkin terasa membingungkan bagi penonton awam yang mencari hiburan ringan atau edukasi yang gamblang. Namun bagi pencinta seni, sejarah, dan sinema, film ini adalah perjalanan musikal puitis yang menantang, mengharukan, dan sarat pengetahuan.
Editor: Lulu
Terkait
The Shadow’s Edge benar-benar layak tonton. Setiap detail…
NYALANUSANTARA, KOBE- Liam dulunya menjalani kehidupan penuh penderitaan di…
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang - Semangat berbagi dan kepedulian terhadap…
Surabaya – Kementerian Hukum mulai menguji pendekatan baru…
NYALANUSANTARA, Gunungkidul– Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus memperkuat sektor…
NYALANUSANTARA, Pemalang– Pemerintah Kabupaten Pemalang bersama DPRD Kabupaten…
NYALANUSANTARA, Gunungkidul– Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus mendorong peningkatan…
NYALANUSANTARA, Purbalingga– Kesempatan besar datang bagi Aimar Nahsif…
NYALANUSANTARA, Pemalang– Sebanyak 32 anggota Pramuka Penggalang Kabupaten…
NYALANUSANTARA, Slawi– Di tengah tantangan kenaikan biaya produksi…
NYALANUSANTARA, Cilacap– Dampak musim kemarau mulai dirasakan sejumlah…
NYALANUSANTARA, Gunungkidul– Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP)…
NYALANUSANTARA, Semarang- Persoalan sampah di Jawa Tengah membutuhkan…

Komentar