Kementan Perkuat Biosekuriti Usai Pembatasan Impor Unggas oleh Arab Saudi

Kementan Perkuat Biosekuriti Usai Pembatasan Impor Unggas oleh Arab Saudi

ISTIMEWA

Produk Olahan Jadi Jalur Strategis

Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH Kementan, Makmun, menjelaskan bahwa akses pasar unggas segar seperti karkas dan telur ke Arab Saudi masih dalam tahap negosiasi dan belum memperoleh persetujuan.

Namun, terdapat kemajuan pada produk olahan unggas yang telah melalui proses pemanasan pada suhu yang mampu membunuh virus Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Produk olahan tersebut tetap dapat diekspor karena memenuhi persyaratan sanitari.

Data menunjukkan ekspor produk olahan daging ayam (HS 16023290) ke Arab Saudi pada 2023 mencapai 19 ton dengan nilai sekitar 294.654 dolar AS. Sementara itu, ekspor produk berbasis olahan ayam lainnya (HS 210390) meningkat signifikan hingga menembus lebih dari 132 juta dolar AS pada 2024.

Pada 2025, Indonesia juga memperoleh izin ekspor produk unggas heat-treated retort sterilized, seperti semur ayam, opor ayam, dan rendang ayam, untuk kebutuhan jemaah haji Indonesia.

Penguatan Standar Internasional

Untuk menjaga standar global, Kementan menjalankan penguatan biosekuriti berlapis di sentra produksi unggas, meningkatkan vaksinasi berbasis risiko, memperketat pengendalian lalu lintas unggas, serta menyelaraskan sertifikasi kesehatan veteriner dengan standar World Organisation for Animal Health (WOAH).

Langkah tersebut mencakup peningkatan sistem ketertelusuran, audit fasilitas, serta verifikasi unit usaha berorientasi ekspor.

Pemerintah menegaskan akan terus membuka komunikasi teknis dengan otoritas Arab Saudi untuk memperjelas persyaratan, memperkuat kerja sama veteriner, dan secara bertahap memulihkan akses pasar—terutama melalui jalur produk olahan yang telah memenuhi ketentuan sanitari internasional.


Editor: Lulu

Komentar

Terkini