Pakar Politik UNAIR: Pemecahan Kementerian di Kabinet Merah Putih Upaya Stabilitas Koalisi, Namun Bebani Anggaran

Pakar Politik UNAIR: Pemecahan Kementerian di Kabinet Merah Putih Upaya Stabilitas Koalisi, Namun Bebani Anggaran

Dosen ilmu politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) Ali Sahab S IP M Si

NYALANUSANTARA, Surabaya – Presiden Prabowo Subianto resmi memperkenalkan Kabinet Merah Putih dengan struktur yang lebih besar, mencakup 48 kementerian dan 56 wakil menteri, dalam pengumuman di Istana Negara pada 21 Oktober lalu. 

Langkah ini menuai tanggapan dari berbagai pakar politik, termasuk Ali Sahab, dosen politik dari Universitas Airlangga (UNAIR), yang menilai pemecahan kementerian ini sebagai strategi merangkul koalisi besar namun juga mengundang risiko anggaran dan potensi tumpang tindih wewenang.

Ali Sahab menjelaskan bahwa perombakan ini mungkin bertujuan menjaga stabilitas politik dan memastikan representasi bagi kelompok-kelompok politik yang mendukung Prabowo. 

"Ini adalah langkah merangkul berbagai pihak dalam koalisi, yang dampak positifnya akan meningkatkan stabilitas politik. Namun, dampak negatifnya bisa berupa pembengkakan anggaran dan kemungkinan konflik internal," ujar Ali Sahab.

Kabinet Merah Putih menjadi kabinet terbesar sejak era Orde Baru, dengan Kemenristekdikti yang kini terbagi dalam tiga kementerian baru. 

Hal ini, menurut Ali Sahab, memperlihatkan upaya pemerintah untuk mengakomodasi partai-partai koalisi. 

"Saya melihat bahwa kabinet ini terkesan 'gemuk', misalnya Kemenristekdikti yang dipisah-pisah untuk memberi ruang bagi representasi partai koalisi," jelasnya.


Editor: Admin

Terkait

Komentar

Terkini