Ulasan Film The Home: Ide Segar yang Terjebak Eksekusi Berantakan
James DeMonaco kembali ke genre horor lewat film terbarunya, The Home. Sutradara di balik kesuksesan The Purge ini menghadirkan teror dengan latar yang tak lazim, yakni sebuah panti jompo mewah. Premis tersebut sebenarnya menjanjikan nuansa segar sekaligus peluang kritik sosial yang kuat. Sayangnya, potensi besar itu tidak terwujud secara maksimal karena cerita yang terasa kacau dan gagal membangun ketegangan secara konsisten.
Dibintangi Pete Davidson, The Home sebetulnya memiliki modal kuat untuk mengangkat isu ketimpangan generasi dan kegelisahan anak muda. Namun sepanjang film, gagasan tersebut lebih sering muncul sebagai wacana dangkal ketimbang konflik yang benar-benar berkembang.
Cerita berpusat pada Max, seorang pemuda bermasalah yang harus menjalani hukuman pelayanan masyarakat di rumah lansia bernama Green Meadows. Max masih dihantui trauma mendalam setelah adik angkatnya, Luke, bunuh diri tak lama usai diterima di perguruan tinggi. Luka batin itu membuat hidup Max tak terkendali, hingga hukuman kerja sosial menjadi upaya terakhir sang ayah angkat untuk menyelamatkannya dari penjara.
Dari luar, Green Meadows tampak nyaman dan tenang. Namun perlahan, Max mulai merasakan kejanggalan. Jeritan misterius di malam hari, para lansia yang terlihat terlalu bugar, hingga keberadaan lantai empat terlarang menuntunnya pada rahasia kelam. Di sana, para penghuni lansia duduk dengan tatapan kosong, dikelilingi televisi yang memutar tayangan pengeboran minyak—sebuah simbol yang mengisyaratkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Pemilihan Pete Davidson sebagai Max sebenarnya menarik. Ia merepresentasikan generasi muda yang sinis dan frustrasi terhadap masa depan, bahkan beberapa dialognya terang-terangan menyentil generasi tua yang dianggap mewariskan krisis lingkungan dan ketimpangan sosial. Namun secara akting, Davidson kurang mampu menggali emosi karakter. Max terasa datar, minim ledakan emosi, dan kurang meyakinkan pada momen-momen krusial yang seharusnya kuat secara dramatis.
Dari sisi visual, The Home tampil cukup berani. Permainan warna merah dan biru yang mencolok menciptakan kesan surealis dan tidak wajar. Sayangnya, kekuatan visual ini tidak diimbangi dengan narasi yang solid. Film terlalu mengandalkan jumpscare dengan suara keras yang mudah ditebak, sehingga alih-alih menegangkan, beberapa adegan justru terasa berlebihan dan kehilangan efek horor.
Tema besar tentang penuaan, ketimpangan generasi, dan kecemasan masa depan sebenarnya menjadi inti cerita. Lansia di Green Meadows hidup nyaman dan terlindungi, sementara Max memandang masa depannya suram dan tanpa harapan. Namun film ini tampak ragu menentukan sikap: apakah para lansia adalah korban sistem atau simbol ketidakadilan itu sendiri. Ketidakjelasan ini membuat kritik sosial yang diusung terasa setengah hati.
Editor: Lulu
Terkait
NYALANUSANTARA, Lasem - Proyek revitalisasi Puskesmas Lasem dengan…
Film The Housemaid (2025) menjadi salah satu thriller…
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang– Kuota Jemaah haji Jawa Tengah pada…
Film Uang Passolo hadir sebagai drama komedi yang…
NYALANUSANTARA, Banjarbaru— Presiden Prabowo Subianto meresmikan 166 Sekolah…
James DeMonaco kembali ke genre horor lewat film…
NYALANUSANTARA, Semarang – Polda Jateng melaksanakan upacara serah…
Film drama keluarga Titip Bunda di Surga-Mu siap…
NYALANUSANTARA, Kudus - Tim SAR Gabungan berhasil menemukan…
Film thriller psikologis Lift siap menghantui penonton bioskop…
NYALANUSANTARA, Semarang– PT PLN Indonesia Power UBP Semarang…
Studio A24 kembali menegaskan ciri khasnya dalam menghadirkan…
NYALANUSANTARA, Semarang - Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng…
Komentar