Antropolog UNAIR Ungkap Sejarah dan Nilai Tradisi Patrol Sahur saat Ramadan

Antropolog UNAIR Ungkap Sejarah dan Nilai Tradisi Patrol Sahur saat Ramadan

Djoko Adi Prasetyo Drs MSi, Antropolog dan dosen kebudayaan Islam dan klasik Indonesia dari Universitas Airlangga

“Di zaman Nabi Muhammad, belum ada pengeras suara atau alat yang dapat digunakan untuk membangunkan sahur. Karena itu, cara yang dipakai sangat sederhana, yaitu dengan mengumandangkan adzan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Djoko juga menjelaskan bahwa tradisi patrol sahur telah mengalami adaptasi di berbagai daerah di Indonesia. Di Sulawesi, misalnya, tradisi ini dikenal dengan nama Dengo-dengo, sementara di Jawa Barat disebut Ubrug-ubrug. 

Namun, meskipun nama dan bentuknya bervariasi, nilai-nilai seperti tanggung jawab sosial, interaksi sosial, dan solidaritas tetap terkandung dalam praktik tersebut.

“Di Sulawesi, tradisi beduk sahur dinamakan Dengo-dengo, sedangkan di Jawa Barat disebut Ubrug-ubrug. Ini adalah tradisi sahur yang paling umum dilakukan di Indonesia,” tambahnya.

Menurut Djoko, patrol sahur mengandung tiga nilai penting: tanggung jawab sosial, interaksi sosial, dan solidaritas. 

Nilai tanggung jawab sosial menekankan bahwa masyarakat secara kolektif memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan waktu sahur. 

Di samping itu, adanya interaksi sosial yang terjadi dalam praktik patrol sahur juga menjadi bagian penting dari warisan budaya ini. 


Editor: Admin

Terkait

Komentar

Terkini