Sino-Nusantara Institute Gandeng FISIP UIN Walisongo Adakan Seminar Geopolitik Timteng

Sino-Nusantara Institute Gandeng FISIP UIN Walisongo Adakan Seminar Geopolitik Timteng

Gunawan juga menyinggung soal kemerdekaan pers. Menurutnya, di banyak negara banyak orang mendiskusikan kemerdekaan pers. Namun di Timur Tengah justru banyak jurnalis yang menjadi korban. 

Standar Ganda AS dan Barat
Sementara itu, direktur Sino-Nusantara Institute, Ahmad Syaifuddin Zuhri berpandangan bahwa Amerika Serikat dan Barat telah memainkan standar ganda dalam konflik Israel-Palestina. 

"AS dan Barat dalam Konflik Palestina-Israel banyak sekali bersikap standar ganda. Korban sipil yang lebih dari 35 ribu warga Gaza oleh Israel sudah masuk level genosida. Hal itu juga banyak dikecam publik global. AS seolah tutup mata, bahkan mendukung penuh Israel dengan militer dan finansial".

"Berbeda sekali ketika AS dan Barat yang banyak menuduh Tiongkok dengan isu HAM dan genosida Uighur di Xinjiang, meski hal itu banyak dibantah negara-negara di kawasan Arab seperti Arab Saudi, UEA dan lainnya," ujarnya.

Dalam kaitannya dengan kepentingan Tiongkok, Zuhri menyebut bahwa China dalam relasinya di Timur Tengah tak jauh dari relasi ekonomi, perdagangan manufaktur dan kebutuhan energi. 

"Timur Tengah menjadi satu-satunya yang bisa memasok kebutuhan energi 50-60% untuk China. Oleh karenanya Timur Tengah menjadi kunci bagi pertumbuhan ekonominya mereka lewat energi itu. Dan konsekuensinya dari itu, negara-negara di Timur Tengah harus menjaga hubungan baik dengan China, "papar dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu. 

Lanjut Zuhri, China mempunyai skema Belt and Road Initiative (BRI) yang salah satu tujuannya negara-negara Arab. Oleh karenanya China berkepentingan menawarkan solusi ke negara-negara konflik, termasuk gagasan solusi dua negara Palestina dan Israel. (**)


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini