Kepemimpinan Perempuan Masih Terkendala Sistem Sosial dan Ekonomi yang Diskriminatif

Kepemimpinan Perempuan Masih Terkendala Sistem Sosial dan Ekonomi yang Diskriminatif

“Kenapa tidak membuat pantry di sekolah, di mana ibu-ibu lokal bisa memasak makanan bergizi untuk anak-anak? Ini bukan hanya solusi gizi tetapi juga membuka lapangan kerja,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan bahwa program makan siang berbasis tender dapat membawa masalah lingkungan dan sosial, seperti penggunaan plastik berlebih dan kurangnya transparansi dalam proses pengadaan.

Penguatan Komunitas Perempuan di Berbagai Bidang
Dr. Dewi mendorong penguatan komunitas perempuan, khususnya petani dan nelayan perempuan, melalui program pelatihan dan akses sumber daya. Selain itu, investasi dalam layanan perawatan dan kebijakan fleksibel seperti cuti keluarga berbayar dan pengaturan kerja jarak jauh juga dapat membantu meringankan beban perempuan.

“Investasi dalam pekerjaan perawatan bukan hanya tentang pengakuan terhadap nilai kerja perempuan, tetapi juga merupakan strategi untuk menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa meningkatkan emisi karbon,” tuturnya.

Tantangan lain yang dihadapi perempuan adalah beban ganda, yaitu tanggung jawab domestik yang harus dijalankan bersamaan dengan pekerjaan profesional. Donna Louisa Latief, seorang pengusaha, berbagi pengalaman tentang bagaimana perempuan sering kali harus bekerja lebih keras untuk membuktikan diri di dunia bisnis.

“Kepemimpinan perempuan menghadapi tantangan unik, terutama dalam hal komunikasi dan kolaborasi dengan rekan pria. Namun, ini justru membuka peluang untuk membuktikan bahwa perempuan mampu memimpin dengan integritas dan visi yang jelas,” katanya.

Renata Bulan Siagian, Konsul-Jenderal RI di Hamburg, berbicara tentang perjalanan panjang perempuan di dunia diplomasi. Ia mengangkat realitas yang dihadapi perempuan di dunia diplomasi, sebuah arena yang dulunya didominasi oleh laki-laki.


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini