Serangan Besar-besaran Amerika Serikat ke Iran Picu Banyak Pertanyaan

Serangan Besar-besaran Amerika Serikat ke Iran Picu Banyak Pertanyaan

Foto: Xinhua

NYALANUSANTARA, Jakarta- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu dini hari waktu setempat, 28 Februari 2026, mengatakan bahwa pasukan AS telah meluncurkan kampanye militer berskala besar terhadap Iran, memunculkan pertanyaan mengenai apakah Gedung Putih sedang berupaya mengganti rezim Iran dan seberapa luas operasi tersebut akan berlangsung. Para anggota parlemen juga mempertanyakan tidak adanya otorisasi dari Kongres.

Dalam pidato via video berdurasi delapan menit dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Trump mengatakan AS akan menghancurkan industri rudal dan kekuatan angkatan laut Iran, mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir, serta menetralisasi kelompok bersenjata yang didukung Iran di seluruh Timur Tengah.

Dia juga mendesak anggota Korps Garda Revolusi Islam, angkatan bersenjata, dan kepolisian Iran untuk meletakkan senjata mereka dengan imbalan kekebalan hukum, serta menyerukan masyarakat Iran untuk "mengambil alih pemerintahan" setelah operasi militer AS berakhir, pernyataan yang menurut para analis mengindikasikan setidaknya dorongan tersirat untuk perubahan rezim.

Trump mengulang klaimnya bahwa Iran sedang mengembangkan rudal jarak jauh yang mampu menjangkau daratan AS. Namun sejumlah media AS, mengutip pejabat intelijen, melaporkan bahwa tidak ada bukti intelijen yang meyakinkan untuk mendukung pernyataan tersebut. The New York Times melaporkan bahwa penilaian Badan Intelijen Pertahanan pada 2025 menemukan Iran belum memutuskan untuk membuat rudal balistik antarbenua.

Dalam wawancara singkat dengan The Washington Post pada Sabtu pagi, Trump mengatakan dia berharap warisannya dari serangan terhadap Iran adalah "kebebasan bagi rakyat" dan "negara yang aman."

"Pendekatan Trump terhadap Iran ceroboh. Tujuannya tidak didefinisikan dengan jelas," tulis The New York Times dalam opini editorialnya.

Pentagon menamai operasi tersebut Operation Epic Fury, yang dikatakan para pejabat AS kepada sejumlah media dapat berlangsung selama beberapa hari atau pekan dan diperkirakan melampaui skala serangan gabungan AS-Israel selama 12 hari terhadap sejumlah target Iran pada Juni 2025.


Editor: Redaksi
Sumber: Xinhua

Terkait

Komentar

Terkini