ULASAN Prometheus: Ambisi Besar, Ekspektasi Tinggi, dan Reputasi yang Terbelah
NETFLIX
Tahun ini menandai satu dekade sejak perilisan Prometheus, film prekuel semesta Alien garapan Ridley Scott. Sejak awal diumumkan, proyek ini disambut dengan ekspektasi luar biasa tinggi. Sutradara yang sama di balik Alien dan Blade Runner kembali ke ranah fiksi ilmiah gelap—sebuah kombinasi yang hampir mustahil untuk tidak dinantikan. Namun, ketika akhirnya dirilis pada 2012, film ini justru memicu respons yang terbelah tajam, bahkan cenderung bermusuhan.
Sebagian kritik terasa berlebihan. Ada kesan bahwa Prometheus dijadikan contoh kegagalan blockbuster modern—seolah-olah film besar yang biasa-biasa saja tetap lebih bisa diterima daripada film ambisius yang tidak sepenuhnya berhasil. Reaksi ini mengingatkan pada nasib Alien 3 yang pada 1992 dicerca habis-habisan, namun kemudian mengalami rehabilitasi reputasi seiring waktu. Mungkin Prometheus pun pantas mendapatkan penilaian ulang yang lebih tenang.
Harus diakui, sebagian kekecewaan lahir dari ekspektasi yang nyaris mustahil dipenuhi. Film ini dipromosikan secara samar sebagai prekuel Alien, tetapi juga digadang-gadang sebagai karya fiksi ilmiah filosofis yang berdiri sendiri. Penonton yang berharap mendapatkan sekuel langsung penuh teror xenomorph tentu akan merasa dikhianati. Namun jika dibandingkan dengan Alien Resurrection, Alien vs. Predator, atau Aliens vs. Predator: Requiem, kualitas visual dan ambisi tematik Prometheus jelas berada di atasnya.
Secara premis, film ini mengikuti dua ilmuwan yang menemukan pola ukiran kuno di Bumi yang menunjuk ke satu sistem bintang jauh. Mereka memimpin ekspedisi ke LV-223 untuk mencari “Engineer”, makhluk yang diyakini sebagai pencipta umat manusia. Namun yang mereka temukan justru ancaman eksistensial. Ide tentang asal-usul manusia dan pencipta yang berbalik memusnahkan ciptaannya adalah gagasan besar dan menarik.
Masalahnya terletak pada eksekusi. Skenario film ini kerap memaksa karakter melakukan keputusan yang terasa tidak masuk akal. Ilmuwan tersesat di struktur yang sudah dipetakan, kru menerima misi mahal tanpa penjelasan memadai, dan interaksi dengan organisme asing dilakukan dengan kecerobohan yang sulit dipercaya. Banyak penonton merasa film ini menuntut mereka untuk mengabaikan logika demi mempertahankan ketegangan.
Namun di sisi lain, secara visual Prometheus luar biasa. Desain produksi, sinematografi, dan atmosfernya mungkin yang paling megah dalam seluruh waralaba. Scott tampak lebih tertarik mengeksplorasi misteri para Engineer dan karakter android David—yang terasa lebih dekat secara tematik dengan Blade Runner—ketimbang mengulang formula horor Alien. Fokus inilah yang membuat film terasa seperti karya yang terjebak di antara dua identitas: prekuel franchise dan meditasi fiksi ilmiah eksistensial.
Eksperimen ini berlanjut dalam Alien: Covenant, tetapi narasi prekuel yang tidak stabil tersebut akhirnya berhenti di sana. Pada akhirnya, Prometheus bukanlah film yang buruk, melainkan film dengan potensi besar yang tidak sepenuhnya terwujud. Ia menjanjikan kedalaman filosofis dan kemegahan kosmik, namun tersandung oleh struktur cerita yang rapuh.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, LAMONGAN- Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim…
NYALANUSANTARA, Jakarta - Sersan Mayor Dua Kadet Matematika,…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Otoritas Palestina mengumumkan pembentukan sebuah kantor…
NYALANUSANTARA, Bandung- Pemuncak klasemen sementara BRI Super League…
NYALANUSANTARA, BEIJING- Xinhua Publishing House, divisi penerbitan dari…
NYALANUSANTARA, Bandung- Mantan bintang Paris Saint Germain (PSG),…
NYALANUSANTARA, Gunungkidul- Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, turut…
NYALANUSANTARA, Semarang - Dalam rangka mewujudkan bulan suci…
NYALANUSANTARA, Jakarta– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng)…
NYALANUSANTARA, Semarang – Polda Jateng menangkap enam debt…
NYALANUSANTARA, Cilacap- Pemerintah Kabupaten Cilacap berhasil memenangkan gugatan…
Komentar