Waspada Superflu, Dosen UNAIR Tekankan Pentingnya PHBS

Waspada Superflu, Dosen UNAIR Tekankan Pentingnya PHBS

NYALANUSANTARA, SURABAYA- Merebaknya kasus superflu yang disebabkan oleh virus Influenza A (H2N3) subclade K menjadi perhatian serius masyarakat. Hingga saat ini, tercatat 62 kasus ditemukan di Indonesia yang tersebar di delapan provinsi, dengan Jawa Timur sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 23 pasien positif.

Menanggapi kondisi tersebut, Dosen Luar Biasa (LB) sekaligus pakar kesehatan masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Windhu Purnomo, dr., MS, menyampaikan bahwa secara klinis gejala superflu menyerupai flu biasa.

“Gejalanya umumnya sama seperti flu pada umumnya, seperti demam, batuk, dan pilek. Secara kasat mata memang sulit dibedakan. Namun jika disertai sesak napas atau keluhan tidak kunjung membaik, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Pentingnya Deteksi Dini

Windhu menjelaskan bahwa diagnosis superflu memerlukan pemeriksaan lanjutan melalui uji laboratorium, yakni Whole Genome Sequencing (WGS) untuk mendeteksi keberadaan virus H2N3 pada manusia. Ia juga menekankan bahwa tingkat penularan superflu lebih cepat dibanding flu biasa.

Meski demikian, menurutnya superflu tergolong penyakit dengan risiko relatif rendah. Hal ini terlihat dari angka rawat inap dan fatalitas yang masih rendah.

“Jika daya tahan tubuh seseorang baik, penyakit ini umumnya dapat sembuh dengan sendirinya. Namun demikian, superflu tetap tidak boleh dianggap sepele,” jelasnya.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini